Kaos benefit Info House Utopia; Food Not Bombs Palembang, Sangkakalam Publishing, dan Hoax edisi "Nestle, Good Food, Good Lies!". Tersedia dalam ukuran S, M dan L. Informasi lebih komplit silahkan hubungi 0819-58531-1968.
Jumat, 03 Agustus 2012
Kamis, 02 Agustus 2012
Andreas Baader dan Para Bidadari Besi
Didedikasikan bagi para petani Ogan Ilir -Sumsel, Donggala-Sulteng, dan korban yang berjatuhan di seantero Indonesia dalam memperjuangkan hidupnya melawan tirani agraria.
"Kekerasan adalah satu-satunya cara untuk menjawab kekerasan."--Gudrun Ensslin
![]() |
| Markas Korps V di Frankfurt Jerman yang diledakkan geng Baader 11 Mei 1972 |
Beberapa kejadian di atas merupakan serangkaian aksi teror yang
dilakukan oleh Baader-Meinhof, yang di kemudian hari juga dikenal
dengan nama RAF, Rote Armee Fraktion atau Red Army Faction (Fraksi
Tentara Merah). Dalam setiap aksi, mereka menamakannya dengan titel
berbeda; "The Manfred GrashofCommando”,"Commando Fifteenth July”, atau “The 2 July Commando“ dan nama-nama asing lainnya. Inilah taktik gerilya kota berkonsep sel
partisipatoris yang diterapkan oleh kalangan revolusioner Jerman yang
kala itu terinspirasi oleh salah satu induk pedomannya, Carlos
Marighella, seorang pejuang marxis asal Brazil, yang dalam sebuah
bukunya berjudul Minimanual of the Urban Guerrilla (1969)
berkata: “Gerilya kota harus mengikuti tujuan politik, dan hanya
menyerang pemerintah, bisnis besar, dan imperialis asing”. Mereka
mendapat banyak ilmu dari 'sang mentor' yang mengadopsi gerilya desa
Che Guevara menjadi gerilya kota, tentang pelatihan senjata ringan,
trik sabotase, pemilihan tempat persembunyian, langkah pengambilalihan,
serta cara memperoleh dukungan substansial di antara penduduk perkotaan.
***
Semua bermula dari kemarahan seorang anggota partai komunis dan
jurnalis berhaluan kiri, Ulrike Meinhoff atas sikap kalangan pers sayap
kanan yang mendeskreditkan gelombang demonstrasi radikal mahasiswa,
sebagai muara dari protes terhadap pembunuhan salah seorang aktivis
mahasiswa oleh fasis fanatik Jerman Barat. Di sela kemarahannya
tersebut, pada 2 April 1968, seorang berandalan bernama Andreas Baader
berlibat bersama kekasihnya, seorang mahasiswi filsafat Gudrun Ensslin
dalam meledakkan pusat perbelanjaan Kaufhaus Schneider di pusat kota
Frankfurt. Meski tak melukai seorangpun, dua hari kemudian Baader,
Ensslin dan dua temannya, Horst Söhnlein dan Thorwald Proll ditangkap
atas serangan yang mereka daku sebagai balasan atas pembantaian Amerika
Serikat terhadap Vietnam. Mereka divonis tiga tahun penjara namun
dibebaskan sementara di bawah amnesti khusus bagi tahanan politik.
![]() |
| Andreas Baader dan Gudrun Ensslin di sela persidangan. |
Ketika pengadilan hendak melimpahkan kembali mereka ke ruang
tahanan, pada November 1969 Baader, Ensslin, dan Thorwald Proll mangkir
dan berhasil melarikan diri, bersembunyi berpindah tempat, ke Swiss,
Perancis dan Italia. Namun Baader yang ternyata belum beruntung kembali
tertangkap satu bulan kemudian di sebuah razia lalu lintas.
Ensslin
tak tahan melihat kekasihnya berada dalam tahanan. Skenario pelarian
Baader Ia rancang dengan meminta bantuan Meinhoff selaku wartawati yang
hendak mewawancara Baader. Udara kebebasan rupanya selalu berpihak pada
Baader. Upaya itu berhasil setelah melumpuhkan dua penjaga bersenjata.
Keterlibatan Ulrike Meinhoff lebih dalam pada grup dimulai disini.
Pasca
aksi penglolosan Baader dari penjara, Meinhoff belajar ilmu militer dan
mengasah mental militansinya dalam sebuah kamp pelatihan militan kiri
Fatah di Yordania selama beberapa waktu, untuk lantas kembali ke Jerman
Barat. Lalu pada tahun 1970, Ulrike Meinhof mengeluarkan manifesto yang
untuk kali pertama menyertakan nama RAF, lengkap dengan logo bintang
merah dan senapan mesin Heckler & Koch MP5. Meinhof mengikrarkan
berdirinya RAF.
Gerilya Kota dan Sel Terorisme
RAF
dibentuk salah satunya dengan tujuan untuk saling melengkapi sejumlah
besar kelompok revolusioner dan radikal di Eropa khususnya Jerman
Barat. Mereka salah sekian dari gerakan-gerakan serupa di Jerman di
masa yang sama. Sebutlah grup anarkis Second Of June Movement alias
Movement 2 June yang terkenal akan aksi pemboman dan termasuk aksi
tersohor penculikan walikota Jerman Barat Peter Lorenz; lalu ada
Revolutionary Cells alias Revolutionäre Zellen (RZ), geng pembajak
pesawat perpaduan elemen kiri radikal, anti patriarki, dan anti zionis,
yang bertanggung jawab atas serangkaian pemboman terhadap pelbagai
infrastruktur antek Israel; dan terakhir adalah Rote Zora alias Red
Zora, kelompok feminis militan yang melakukan serangkaian pemboman pada
toko-toko perlengkapan seks, termasuk peledakan di luar kantor Asosiasi
Dokter Jerman sebagai bentuk protes pada undang-undang aborsi serta
serangan-serangan lain terhadap kantor-kantor korporat.
![]() |
| Andreas Baader, pemuda putus sekolah yang gemar mencuri mobil-mobil keren demi menjalankan misi perampokan RAF. |
![]() |
| Ulrike Meinhof, jurnalis modis yang kritis, penggemar teori dan berani mati. |
![]() |
| Gudrun Ensslin, kekasih Andreas Baader, penerap liberasi seksual. |
Saturday Channel
"Kontrak rekaman label besar tidak lantas menjadikanmu seorang bintang.
Dirimulah yang mewujudkannya."--Lady Gaga
Musik disinyalir sudah ada sejak zaman manusia mulai
mengenali kepercayaan-kepercayaan. Penemuan alat musik serupa flute di
Jerman Selatan menjadi salah satu buktinya. Selain menggunakan siulan,
dendang, tepukan-tepukan dengan menggunakan bagian tubuh, kayu-kayu
berongga, tulang burung dan gading gajah purba, menjadi instrumen
pengiring puji-pujian kepada sosok yang mereka yakini sebagai tuhan,
dan disenandungkan dalam gubahan nada yang pada akhirnya diseragamkan.
Demikian kiranya keseragaman ini digunakan di masa reformasi gereja
abad pertengahan demi keteraturan umat. Seiring dengan terjadinya
reformasi budaya dan penemuan-penemuan di pelbagai bidang, pada
akhirnya musik berkembang melintasi berbagai zaman.
Sejak
musik menjadi penafsir dan tumpahan emosional manusia yang juga
mempengaruhi mental sekira obat penawar kepedihan dan sukacita, saat
itu pula musik mulai disusun berdasar estetika. Untuk mengiringi
keriangan panen raya dipilihlah musik yang meriah, untuk menghibur hati
raja yang terluka dipilihkan musik yang sendu, lalu digunakan sebagai
media terapi kejiwaan penyakit mental, pemikat kekasih, dan belakangan
konon sebagai perantara penumbuh kecerdasan jabang bayi dalam perut
emaknya.
Dulu kala, di masa-masa kerajaan nusantara,
gamelan menjadi alat musik penghibur istana. Alat musik satu ini sudah
ada pra masuknya pengaruh Hindu- Buddha. Tak berapa lama, dua negeri
besar tumbuh di Asia. Cina dan India, yang tingkat peradabannya
cenderung tinggi kala itu, merapat ke Indonesia yang notabene memiliki
jalur perdagangan laut strategis Selat Malaka. Selat ini menjadi tempat
favorit untuk bersandarnya kapal-kapal dagang dan berjumpanya para
pedagang yang juga datang dari Arab dan Persia. Tidak hanya pedagang,
namun juga para pelarian perang besar antar golongan dalam masyarakat
yang terjadi masa itu di India.
Kedatangan bangsa-bangsa
ini mempengaruhi banyak hal bagi masyarakat nusantara pada saat itu.
Sebagian dari mereka tidak lagi menganut animisme dan dinamisme tapi
menganut ajaran Hindu, sistem kerajaan-kerajaan dibenahi hingga muncul
kerajaan-kerajaan besar seperti Kutai, Tarumanegara, dan Sriwijaya.
Tidak hanya reformasi dalam bidang politik dan kepercayaan, namun juga
bahasa, sastra, termasuk pula seni musik. Demikian pula ketika
ajaran-ajaran lain masuk, Islam melalui bangsa Arab dan Kristen bersama
bangsa Eropa. Sejak datangnya bangsa-bangsa ini beserta kebudayaannya
masing-masing hingga kolonialisme menjejakkan kaki di Indonesia,
terjadi perkembangan yang signifikan di dunia kesenian Indonesia. Ini
ditandai dengan berkembangnya alat-alat dan aliran-aliran musik,
seperti gamelan dengan versi baru, gambus, rebana, hingga keroncong.
Revolusi
musik modern yang terjadi di negeri Barat turut mempengaruhi peta musi
di tanah air. Termasuk ketika gitar listrik diperkenalkan di tahun
1930-an dan ketika agen-agen kebudayaan pop dan rock 'n roll melanda
Amerika dan Eropa yang diwakili oleh sederet nama semacam Frank
Sinatra, Elvis Priesley, dan The Beatles, yang menjadi ikon musik
populer. Pengaruh ini didatangkan ke Indonesia bersama cakram piringan
hitam di kalangan tertentu. Masuknya televisi di Indonesia kemudian
menjadi salah satu corong penyampai musik gaya baru ini.
Di
awal abad ke-18 para pemusik Barat didukung penuh oleh gereja dan
aristokrat. Belum ada yang namanya komersialisasi musik. Lalu
setelahnya, Mozart dan kawan-kawan mulai mencari peluang komersial
untuk memasarkan musik dan pertunjukan mereka kepada masyarakat umum.
Pada
akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, mulai lahir label-label kecil
yang mengambil keuntungan tidak hanya dari penjualan tiket semata.
Piringan hitam menjadi sumber keuntungan baru dengan merekam konser
langsung para musisi lalu memperbanyak dan menjualnya ke khalayak
dengan jumlah yang masih terbatas. Beberapa nama menjadi pemain dalam
bisnis baru ini; The Gramophone Company, Columbia Records, Victor
Talking Machine Company dan lainnya yang beberapa waktu kemudian juag
melahirkan industri baru sekelas Universal Music Group, Sony Music
Entertainment, Warner Music Group dan EMI Group.
Industri
rekaman yang kini kita kenal dengan terminologi major label ini sama
halnya dengan perusahaan dagang lainnya. Mereka mengatur segala tetek
bengek yang bersangkutan dengan pemasaran rekaman, memikirkan
distribusinya, menyusun formula promosinya. Tentu saja, pemusik di situ
cuma terandai barang dagangan. Mereka harus berdaya jual yang mesti
melalui serangkai seleksi ketat pula dalam proses rekrutmen, meskipun
sudah tentu nantinya harus menuruti tata cara yang diberlakukan oleh
perusahaan, itu pun masih melewati proses sensor yang jangan pernah
terbayang akan selonggar keinginan kita.
Pada akhirnya,
label independen lah yang menjadi perbincangan kita. Ketatnya aturan
tersebut yang bermuara pada keinginan band-band penolak kompetisi untuk
mengurus sendiri albumnya. Bisa jadi juga mulanya mereka adalah barisan
musisi-musisi yang patah hati karena demonya tak kunjung mendapat
sambutan dari perusahaan rekaman atau bisa juga ini sekedar batu
loncatan dengan harapan nanti pada finalnya mendapat perhatian dari
perusahaan rekaman. Maka dipilihlah jalan independen. Urus-mengurus
rekaman bisa disamakan sejak mulai proses produksi; memilih studio
rekaman yang mumpuni, memilah jenis sound sesuai keinginan, memikirkan
titik-titik distribusi, mau dijual atau digratiskan, merancang sampul
album, berformat CD ataupun digital, menggarap poster publikasi serta
metode promosi lainnya, menggelar konser peluncuran album, dan mengatur
sendiri jadwal pertunjukkan. Apapun alasannya, di titik ini kemandirian
menang telak.
Internet patut mendapat pujian rasa terima
kasih bagi para musisi independen yang ingin menyebar kabar dan rekaman
mereka hingga ke seluruh dunia. Biaya produksi dan distribusi bisa
ditekan amat jauh. Dan pembajakan yang amat ditakutkan oleh perusahaan
rekaman, menjadi siasat yang sangat jitu dan menguntungkan bagi si
musisi untuk mengenalkan band dan karya mereka. Semakin banyak orang
mengkopi lagu mereka, berarti semakin banyak yang mendengar dan
mengenalinya.
Ada kabar baik lagi datang hari ini--di
tengah-tengah istilah indie atau independen yang justru menjadi sebuah
tren baru bagi para pengejar keuntungan--bahwa event bertajuk "Saturday
Channel" menjadi media bagi musisi-musisi independen di Kota Palembang
untuk dapat saling menyapa, memberi dan menerima perihal segala
informasi yang berkaitan dengan independensi dalam bermusik, yang
termasuk didalamnya pengalaman membentuk dan mengelola sendiri sebuah
band, mengatur prosesi perekaman album secara mandiri sejak
memproduksinya, mempromosikan, mendistribusikan dan strategi-strategi
ampuh lainnya. Dan pastinya dengan menghadirkan band-band independen di
Kota Palembang untuk berpentas dan berdiskusi; Grey, The ICU, dan [C54].
Hanya
ada harapan kecil bagi kami pasca event kali ini, yaitu ada bekal baru
untuk menyemangati kembali kemandirian agar tak tumpul dimangsa dunia
yang serba instan.
Stupidzero: Emosi Tanpa Keramaian
Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Jaraknya cuma kisaran 80
kilometer dari Kota Medan. Kota tempat pelukis Pak Tino Sidin berasal
ini, menyimpan sejarah kelam saat meletusnya kerusuhan di tahun 1998
yang menjalar menjadi isu rasial. Ah, semoga saja itu semua cukup
menjadi pembelajaran dan kiranya traumatis sejarah itu dapat terobati
dengan mencicip kelezatan jajanan khas lemang dan kue kacang
rajawalinya.
Tak disangka-sangka, di kota perlintasan
lalu lalang transportasi antar provinsi ini, gemuruh grunge terdengar
hingga kota-kota dan provinsi-provinsi sekitarnya bahkan ke negeri
tetangga, Malaysia. Gejalanya terasa di kisaran 1996. Band-band lokal
sekira Nirvana dan Sonic Youth bermunculan. Stupid Zero menjadi salah
satu yang masih berdiri hingga kini. Mereka terbentuk hampir 15 tahun
yang lalu, atau tepatnya 10 Oktober 1997. Dengan meng-cover lagu-lagu
dari The Need dan varian Seattle Sound, band ini menjelajah panggung di
event-event komunitas underground Sumatera Utara.
Tidak
mudah untuk mempertahankan sebuah band di masa-masa kritis yang melanda
Kota Tebing Tinggi di era-era itu. Senasib dengan band-band lain,
mereka mesti berhadapan dengan penolakan studio-studio musik yang
memasang plakat larangan bagi band punk maupun grunge untuk berlatih di
studio musik kolot ini. Dan ini bukan satu-satunya kendala.
Keterbatasan pengadaan event juga mereka rasakan sebagai imbas dari
mahalnya tarif gedung hingga proses birokrasi yang seperti benang kusut.
Secara
internal, Stupidzero mesti merombak berulang-ulang formasi dalam
tubuhnya hingga menjadi sebuah band yang solid. Format terkini yakni
berempat-- Ivan Tigabelas gitaris sekaligus vokalis, Oyde pemeran
gitaris, Boy pemain bas, Pudja Rahim di posisi gitar, dan Yudhi pemukul
drum--dimulai tahun 2007 silam yang aktif berkarya hingga saat ini.
Ritme perjalanan hidup band ini membawa mereka berproses menuju apa
yang sebagian orang sebut sebagai pendewasaan. Nanti dulu, warna musik
mereka yang kini bernuansa post rock atau experimental bukan berdasar
kehendak pasar. Seperti yang kubilang tadi, bahwa ini meruoakan bagian
dari proses panjang pergelutan mereka melawan kemonotonan. Dan itu
terjawab dengan karya-kerya yang sepintas lalu beraroma shoegaze dan
noise, yang juga akan kau temui kompleksitas pada lirik-liriknya.
Ivan
Tigabelas, sang vokalis sekaligus si penulis lagu yang menggemari
penyair Chairil Anwar, percaya bahwa sebuah lagu akan hambar tanpa
kekuatan lirik didalamnya. Coba kau simak single "Tiga Kali Lebih
Tenang" yang pernah diikutsertakan dalam kompilasi Total Feedback
vol.VI di Jakarta tahun 2011 silam, atau single berjudul “Aku
Tinggalkan Kau di Pintu Terakhir” di kompilasi Grungee Jumping-Noise
Grunge Compilation tahun 2011. Disitulah akan kau lihat betapa lirik
menjadi roh dalam sebuah lagu, dan tentu saja dengan musikalitas yang
tak kalah kualitasnya.
Selain dua kompilasi yang kusebut
di atas, Stupidzero juga melibatkan single "Tiga Kali Lebih Tenang"
versi remix di kompilasi Asal Malaysia, Gerakan Grunge Bangkit di tahun
2011. Lalu tahun 2012, single yang sama juga tergabung dalam kompilasi
Surabaya, Grunge Indonesia yangmana CD-nya dipaketkan dalam buku
pergerakan subkultur grunge di Indonesia bertajuk "Perjalanan Grunge
Indonesia". Setahun setelahnya, yakni 2012, single "Tidak Sedang Sadar"
dilibatkan dalam Maximum Grunge Compilation dari Kota Bandung.
Berlanjut dengan cover single Nirvana "You Know You're Right" dalam
Indonesian Tribute to Nirvana Compilation di Jakarta, dan single
"Experimentalia Menuju Surga" di Malaysia yang kini dalam proses
penyelesaian.
Kesibukan Stupidzero menggarap full album
telah dimulai sejak 2007 lampau, termasuk video klip untuk single
"Tidak Sedang Sadar". Akhirnya, setelah berkonsentrasi cukup lama,
album Anomalia siap rilis di kisaran Agustus tahun ini. Seluruhnya
berisi 12 track segar yang kesemuanya dimatangkan di Chinese Food
Record milik Ivan Tigabelas di Kota Tebing Tinggi, yang juga akan
dirilis oleh dua label nasional yakni The Drexter asal Kota Depok dan
Erassed Record dari Jakarta.
Album dalam format CD
sebanyak 1.000 copy ini sangat berwarna karena bereferensi dengan
band-band semisal Sigur Ros, Radiohead, Mogwai, Nirvana, Sonic Youth,
Sleep Party People, Placebo, Merzbow, Boris, Blgtz, Bjork, The Doors,
dan tentu saja yang tak terlupakan, Chairil Anwar.
Ego dan Alter Ego
Saya baru saja membaca ulang sebuah novel karya Sidney Sheldon yang
berjudul "Tell Me Your Dreams". Novel tersebut berkisah hampir sama
dengan kisah dalam film "Fight Club" yang diperankan oleh Edward Norton
dan Brad Pitt. Masih ingat film ini? Betul sekali. Film keren dan
cerdas ini mengangkat kisah dua kepribadian yang terangkum dalam satu
tubuh. Tokoh sekaligus narator tak bernama yang diperankan oleh Norton,
mengenal Tyler Durden sebagai seorang teman tanpa Ia sadari bahwa
Durden merupakan bagian dari dirinya. Dalam dunia nyata, hal yang
serupa dengan apa yang dialami tokoh dalam film di atas dinamai
gangguan kepribadian ganda atau multiple personality disorder, lalu demi alasan kenyamanan belakangan diberi nama gangguan identitas disosiatif atau dissociative identity disorder.
Diberi
nama "gangguan" karena memang pada umumnya para pengidapnya merasa
terganggu dengan adanya kepribadian lain atau alter ego yang merebut
kendali perilaku dalam dirinya. Dalam kasus film di atas, "pemilik asli
tubuh" tidak menyadari bahwa alter ego tersebut adalah bagian dari
dirinya, meskipun kepribadian yang lain menyadari hal itu. Dalam
kasus-kasus kepribadian ganda, tidak selamanya ego mengenal alter ego
sebagai teman khayalan, teman nyata atau orang-orang lain, tapi
terdapat banyak kasus yangmana si ego tidak menyadari bahwa dirinya
telah dikuasai oleh alter ego-alter ego itu.
Sangat
mungkin kepribadian ganda sudah ada sejak zaman manusia baru mengenal
peradaban. Disinyalir di masa itu para pengidapnya dikaitkan dengan
orang yang kerasukan roh-roh halus. Sayangnya tidak ada
pencatatan-pencatatan untuk membuktikan hal ini. Lalu di tahun 1815,
kasus serupa gangguan kepribadian ganda terdiagnosa pada Mary Reynolds
sebagai kasus pertama kali yang tercatat di Amerika. Tidak ada yang
berani menyimpulkan hal apa yang menimpa Mary Reynolds sampai pada
akhirnya kasus Sybil Isabel Dorset mencuat di tahun 1973.
Sybil
Isabel Dorset yang bernama asli Shirley Ardell Mason di diagnosa
mempunya banyak kepribadian. Bermula dari kegelisahannya terhadap
beberapa kejadian hariannya yang tidak Ia ingat sama sekali, maka Sybil
berinisiatif mengunjungi Dr. Cornelia B. Wilbur, seorang psikiater di
kotanya. Hasil diagnosa Wilbur, mengungkap bahwa Sybil memiliki enam
belas kepribadian yang berbeda watak, nama, usia dan jenis kelamin.
Masing-masing
alter ego saling berhubungan dan menjaga satu sama lain bahkan saling
berbagi peran dengan kemampuan yang berbeda-beda. Alter ego yang pandai
secara ekonomi akan berperan mengatur sistem keuangan Sybil, alter ego
yang pandai berkomunikasi akan ada ketika dirinya berhadapan dengan
orang-orang lain. Tiap-tiap alter memiliki karakter yang juga berbeda.
Seperti alter ego bernama Sid Vicious yang mewakili karakter dalam
dirinya yang bengal, atau karakter ibu kandung Sybil yang perannya
untuk menjaga kerukunan semua kepribadian yang ada. Dalam kasus-kasus
serupa, terdapat alter ego-alter ego yang berbeda ras, agama, jenis
kelamin, dan gaya bicara. Bagaimana mungkin belasan bahkan ratusan
kepribadian berkumpul dalam satu tubuh?
Analisis beberapa
ahli mentalis menyatakan bahwa pemicu utama kepribadian ganda ini
adalah trauma mental pada saat si pengidap berusia kanak-kanak. Usia
pra remaja merupakan masa yang sangat berpotensi untuk itu, mengingat
pada usia ini mental manusia cenderung rapuh. Sederhananya begini,
ketika seorang anak kecil mengalami kekerasan baik fisik ataupun
mental, menjadi "diri" orang lain adalah satu-satunya jalan untuk
berlindung dari kejaran traumatis. Ia akan memecah kepribadiannya dan
memilih pribadi atau lain termasuk menciptakan tokoh yang ideal.
Semakin sering kekerasan-kekerasan lain terjadi, semakin banyak koleksi
identitas ia miliki. Tentu saja akan ada alter ego yang bersifat baik
untuk mewakili rasa takut dan kesedihan, serta ada alter ego jahat yang
mewakili dendam dan rasa ingin berontak. Sebuah penghalang memori
kemudian dibangun antara anak itu dengan identitas baru yang telah
diciptakan. Dalam beberapa waktu ia akan melupakan peristiwa-peristiwa
menyakitkan yang pernah ia alami sekaligus melupakan pribadi yang
pernah ia ciptakan. Lalu adakalanya menjelang dewasa,
pengalaman-pengalama buruk di masa lalu itu terulang dalam memori yang
tidak terkunci rapat di otak si pengidap dan mengambil alih tubuh dalam
seketika, atau dalam bahasa kejiwaan diberi istilah switching.
Sumber
masalah berikutnya adalah ketika kepribadian utama tanpa sengaja lebih
mengasah dendam dalam alter ego yang bersifat jahat. Seperti yang
dialami oleh William Stanley Milligan atas Billy Milligan, yang didakwa
tidak bersalah atas kasus perkosaan yang terbukti "Ia" lakukan terhadap
tiga perempuan di Ohio, Amerika Serikat, karena berdasarkan penyidikan
ternyata Billy memiliki 24 kepribadian. Ia menjadi orang pertama yang
lolos dari jeratan hukum karena gangguan yang diidapnya.
Tidak
berbeda jauh dengan Billy Milligan yang mengalami kekerasan masa kecil
berupa pelecehan seksual yang dilakukan oleh ayah tirinya, semasa kecil
Sybil mengalami perlakuan kasar dan penyiksaan yang dilakukan oleh
ibunya sehingga mendorongnya menciptakan pribadi-pribadi yang
"diharapkan" oleh sang ibu.
Perdebatan terjadi antar para
mentalis pada saat itu yang meragukan hasil diagnosa Dr. Cornelia B.
Wilbur terhadap Sybil yang dianggap terlalu mengada-ada. Meski begitu
ada hal-hal yang tidak bisa disangkal oleh para ahli tersebut, yakni
dimana masing-masing kepribadian yang ada, memiliki keahlian
masing-masing yang justru tidak bisa dilakukan oleh si pribadi utama.
Semisal beberapa kepribadian Sybil yang pandai bermain piano, melukis
dan berbahasa asing, walau pada kenyataannya Ia sama sekali belum
pernah mempelajarinya. Ini pula yang pada akhirnya menjadi tiket
kebebasan bagi Billy Milligan dan "diri-dirinya" yang lain setelah
berhasil melewati serangkaian uji kebohongan.
Langganan:
Postingan (Atom)










