Jumat, 03 Agustus 2012

Kaos Benefit

Kaos benefit Info House Utopia; Food Not Bombs Palembang, Sangkakalam Publishing, dan Hoax edisi "Nestle, Good Food, Good Lies!". Tersedia dalam ukuran S, M dan L. Informasi lebih komplit silahkan hubungi 0819-58531-1968.




Kamis, 02 Agustus 2012

Andreas Baader dan Para Bidadari Besi


Didedikasikan bagi para petani Ogan Ilir -Sumsel, Donggala-Sulteng, dan korban yang berjatuhan di seantero Indonesia dalam memperjuangkan hidupnya melawan tirani agraria.

"Kekerasan adalah satu-satunya cara untuk menjawab kekerasan."--Gudrun Ensslin


Aksi dalam "Der Baader Meinhof Complex", film yang menceritakan sepak terjang RAF.


Hari itu, 11 Mei 1972 silam, tiga bom pipa yang tertanam dimuka gedung kantor pusat perusahaan dari konglomerat IG Farben, yang menjadi markas Korps V barak milik Amerika Serikat di Frankfurt Jerman, meledak nyaris bersamaan. Seorang perwira Angkatan Darat Amerika Serikat bernama Paul A. Bloomquist, yang kala itu bertugas pada program rehabilitasi obat untuk tentara, ditemukan tewas di tempat kejadian. Dalam sebuah komunike, sebuah geng yang mengatasnamakan "Petra Schelm Commando," menyatakan bertanggung jawab atas peledakan yang membuat gedung hancur berantakan dan turut menciderai 13 orang lainnya itu demi tuntutan diakhirinya perang Vietnam dan pertambangan di Amerika Utara. 

Tak berselang lama, esok harinya 12 Mei 1972, dua bom pipa meledak tengah hari di tempat yang berbeda. Pertama berupa bom pipa rakitan yang melukai lima orang polisi di Augsburg Police department. Lalu kedua, bom mobil yang melantakkan enam puluh mobil di sebuah parkiran Kota Munich. Tidak ada korban tewas dari kedua ledakan. Sebuah geng yang menyebut diri mereka "Tommy Weissbecker Commando", mengklaim bertanggung jawab sepenuhnya atas kedua kejadian itu.


Markas Korps V di Frankfurt Jerman yang diledakkan geng Baader 11 Mei 1972
Beberapa kejadian di atas merupakan serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh Baader-Meinhof, yang di kemudian hari juga dikenal dengan nama RAF, Rote Armee Fraktion atau Red Army Faction (Fraksi Tentara Merah). Dalam setiap aksi, mereka menamakannya dengan titel berbeda; "The Manfred GrashofCommando”,"Commando Fifteenth July”, atau “The 2 July Commando“ dan nama-nama asing lainnya. Inilah taktik gerilya kota berkonsep sel partisipatoris yang diterapkan oleh kalangan revolusioner Jerman yang kala itu terinspirasi oleh salah satu induk pedomannya, Carlos Marighella, seorang pejuang marxis asal Brazil, yang dalam sebuah bukunya berjudul Minimanual of the Urban Guerrilla (1969) berkata: “Gerilya kota harus mengikuti tujuan politik, dan hanya menyerang pemerintah, bisnis besar, dan imperialis asing”. Mereka mendapat banyak ilmu dari 'sang mentor' yang mengadopsi gerilya desa Che Guevara menjadi gerilya kota, tentang pelatihan senjata ringan, trik sabotase, pemilihan tempat persembunyian, langkah pengambilalihan, serta cara memperoleh dukungan substansial di antara penduduk perkotaan.


                                                                              ***


Semua bermula dari kemarahan seorang anggota partai komunis dan jurnalis berhaluan kiri, Ulrike Meinhoff atas sikap kalangan pers sayap kanan yang mendeskreditkan gelombang demonstrasi radikal mahasiswa, sebagai muara dari protes terhadap pembunuhan salah seorang aktivis mahasiswa oleh fasis fanatik Jerman Barat. Di sela kemarahannya tersebut, pada 2 April 1968, seorang berandalan bernama Andreas Baader berlibat bersama kekasihnya, seorang mahasiswi filsafat Gudrun Ensslin dalam meledakkan pusat perbelanjaan Kaufhaus Schneider di pusat kota Frankfurt. Meski tak melukai seorangpun, dua hari kemudian Baader, Ensslin dan  dua temannya, Horst Söhnlein dan Thorwald Proll ditangkap atas serangan yang mereka daku sebagai balasan atas pembantaian Amerika Serikat terhadap Vietnam. Mereka divonis tiga tahun penjara namun dibebaskan sementara di bawah amnesti khusus bagi tahanan politik.

Andreas Baader dan Gudrun Ensslin di sela persidangan.
Ketika pengadilan hendak melimpahkan kembali mereka ke ruang tahanan, pada November 1969 Baader, Ensslin, dan Thorwald Proll mangkir dan berhasil melarikan diri, bersembunyi berpindah tempat, ke Swiss, Perancis dan Italia. Namun Baader yang ternyata belum beruntung kembali tertangkap satu bulan kemudian di sebuah razia lalu lintas.

Ensslin tak tahan melihat kekasihnya berada dalam tahanan. Skenario pelarian Baader Ia rancang dengan meminta bantuan Meinhoff selaku wartawati yang hendak mewawancara Baader. Udara kebebasan rupanya selalu berpihak pada Baader. Upaya itu berhasil setelah melumpuhkan dua penjaga bersenjata. Keterlibatan Ulrike Meinhoff lebih dalam pada grup dimulai disini.

Pasca aksi penglolosan Baader dari penjara, Meinhoff belajar ilmu militer dan mengasah mental militansinya dalam sebuah kamp pelatihan militan kiri Fatah di Yordania selama beberapa waktu, untuk lantas kembali ke Jerman Barat. Lalu pada tahun 1970, Ulrike Meinhof mengeluarkan manifesto yang untuk kali pertama menyertakan nama RAF, lengkap dengan logo bintang merah dan senapan mesin Heckler & Koch MP5. Meinhof mengikrarkan berdirinya RAF.

Gerilya Kota dan Sel Terorisme

RAF dibentuk salah satunya dengan tujuan untuk saling melengkapi sejumlah besar kelompok revolusioner dan radikal di Eropa khususnya Jerman Barat. Mereka salah sekian dari gerakan-gerakan serupa di Jerman di masa yang sama. Sebutlah grup anarkis Second Of June Movement alias Movement 2 June yang terkenal akan aksi pemboman dan termasuk aksi tersohor penculikan walikota Jerman Barat Peter Lorenz; lalu ada Revolutionary Cells alias Revolutionäre Zellen (RZ), geng pembajak pesawat perpaduan elemen kiri radikal, anti patriarki, dan anti zionis, yang bertanggung jawab atas serangkaian pemboman terhadap pelbagai infrastruktur antek Israel; dan terakhir adalah Rote Zora alias Red Zora, kelompok feminis militan yang melakukan serangkaian pemboman pada toko-toko perlengkapan seks, termasuk peledakan di luar kantor Asosiasi Dokter Jerman sebagai bentuk protes pada undang-undang aborsi serta serangan-serangan lain terhadap kantor-kantor korporat.

Personil RAF, tak semengerikan yang kau kira.

Mereka memiliki prinsip yang sama dalam metode aksi yang mereka lakukan, yakni berbasis sel. Taktik ini cukup menyulitkan pihak otoritas untuk melakukan penggrebekan markas unit-unit gerakan yang selalu berpindah atau menelisik lebih dalam para pemeran di balik aksi ini. Seringkali otoritas terkait mendapati ikon-ikon fiktif. Pola ikonitas yang sama ini juga yang lantas diciptakan oleh otoritas terhadap Baader dan Meinhof sebagai pimpinan RAF, meski dalam RAF sendiri tidak didapati sistem kepemimpinan serupa yang disebutkan oleh otoritas melalui media-media massa plus dengan RAF yang digambarkan sebagai gerombolan psikopat dengan kekejaman-kekejaman yang dikupas tuntas, demi kebencian publik padanya dan gerakan-gerakan serupa.

Gerilya kota yang dilakukan oleh RAF, yang mereka sebut sebagai "perjuangan anti imperialis", sebagian besar didanai dari hasil perampokan pada sejumlah bank. Satu persatu kantor-kantor pemerintahan dan kepolisian, serta markas militer dan sentra bisnis menjadi target pemboman. Sekian pejabat penting, politisi, aparat hukum, bankir dan pengusaha diculik, disandera dan beberapa diantaranya tewas terbunuh.

Lagi-lagi upaya mereka untuk menginspirasi banyak orang tentang makna pemberontakan harus beradu kuat dengan moralitas yang dibangun oleh otoritas. Alih-alih memicu gerakan-gerakan serupa, rakyat Jerman yang mulanya memberikan dukungan dan simpati pada aksi-aksi mereka, akhirnya harus berbanding terbalik dengan apa yang menjadi mimpi RAF. Hegemoni mengalahkan segalanya.

Juni 1972, setelah melalui perburuan panjang, pihak kepolisian berhasil menangkap hidup-hidup generasi pertama RAF; Andreas Baader, Gudrun Ensslin, Ulrike Meinhof, Holger Meins, dan Jan-Carl Raspe. 

Andreas Baader, Jan-Carl Raspe dan Holger Meins ditangkap setelah terjadi tembak menembak panjang di Frankfurt pada tanggal 1 Juni 1972. Seminggu kemudian, Gudrun Ensslin ditangkap di sebuah butik pada tanggal 8 Juni 1972 di Hamburg setelah pemilik butik menghubungi pihak kepolisian karena melihat pistol yang Ia sembunyikan di balik jaketnya. Ulrike Meinhof ditangkap pada tanggal 14 Juni 1972 di apartemen yang Ia sewa bersama pacarnya di Hannover, setelah sebelumnya sempat melakukan perlawanan dengan perkelahian tangan kosong.

Mereka dibuang ke dalam penjara berkeamanan tinggi Stammheim di Stuttgart, lalu ditempatkan ke dalam sel isolasi yang pengap. Selama mereka mendekam, generasi kedua RAF melakukan serangkaian penculikan dan sabotase sebagai aksi balasan dan negosiasi atas pembebasan Baader cs. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Kematian menjemput mereka satu persatu.

Holger Meins tewas kelaparan pada 9 November 1974 oleh aksi mogok makan yang mereka lakukan terhadap sikap otoritas penjara. Sebelum vonis dijatuhkan, tanggal 9 Mei 1976 Ulrike Meinhof ditemukan tewas tergantung dalam selnya dengan lilitan handuk di leher.

Sementara itu generasi kedua RAF terus melakukan beberapa upaya untuk membebaskan rekan-rekannya dari penjara. Mereka membajak sebuah pesawat sebagai pertaruhan. Upaya ini kembali gagal setelah pesawat bajakan diserbu oleh unit anti-teroris Jerman. Beberapa jam usai pembajakan yang tak berhasil, 18 Oktober 1977, Andreas Baader dan Jan-Carl Raspe tewas dengan luka tembakan di kepala di dalam sel mereka. Jan-Carl Raspe meninggal meski sempat dilarikan ke rumah sakit. Di saat yang sama anggota RAF lain yang juga ditahan di penjara yang sama, Irmgard Möller mencoba menusuk dadanya sendiri namun selamat dari kematian. Lalu Gudrun Ensslin, mengikuti jejak Ulrike Meinhof, menggantung diri hingga tewas. 

Berdasar pengakuan Irmgard Möller yang urung menjelang ajal, terungkap bahwa kematian-kematian tersebut bukan aksi bunuh diri, melainkan pembunuhan yang dilakukan oleh pemerintah Jerman. Bagaimanapun, mereka meninggal pada tanggal  di apa yang dikenang sebagai Stammheim Prison's Death Night--Malam Kematian Penjara Stammheim.

Andreas Baader, pemuda putus sekolah yang gemar mencuri mobil-mobil keren demi menjalankan misi perampokan RAF.
Ulrike Meinhof, jurnalis modis yang kritis, penggemar teori dan berani mati.

















 

Gudrun Ensslin, kekasih Andreas Baader, penerap liberasi seksual.


Saturday Channel


"Kontrak rekaman label besar tidak lantas menjadikanmu seorang bintang.
Dirimulah yang mewujudkannya."--Lady Gaga


Musik disinyalir sudah ada sejak zaman manusia mulai mengenali kepercayaan-kepercayaan. Penemuan alat musik serupa flute di Jerman Selatan menjadi salah satu buktinya. Selain menggunakan siulan, dendang, tepukan-tepukan dengan menggunakan bagian tubuh, kayu-kayu berongga, tulang burung dan gading gajah purba, menjadi instrumen pengiring puji-pujian kepada sosok yang mereka yakini sebagai tuhan, dan disenandungkan dalam gubahan nada yang pada akhirnya diseragamkan. Demikian kiranya keseragaman ini digunakan di masa reformasi gereja abad pertengahan demi keteraturan umat. Seiring dengan terjadinya reformasi budaya dan penemuan-penemuan di pelbagai bidang, pada akhirnya musik berkembang melintasi berbagai zaman.

Sejak musik menjadi penafsir dan tumpahan emosional manusia yang juga mempengaruhi mental sekira obat penawar kepedihan dan sukacita, saat itu pula musik mulai disusun berdasar estetika. Untuk mengiringi keriangan panen raya dipilihlah musik yang meriah, untuk menghibur hati raja yang terluka dipilihkan musik yang sendu, lalu digunakan sebagai media terapi kejiwaan penyakit mental, pemikat kekasih, dan belakangan konon sebagai perantara penumbuh kecerdasan jabang bayi dalam perut emaknya.

Dulu kala, di masa-masa kerajaan nusantara, gamelan menjadi alat musik penghibur istana. Alat musik satu ini sudah ada pra masuknya pengaruh Hindu- Buddha. Tak berapa lama, dua negeri besar tumbuh di Asia. Cina dan India, yang tingkat peradabannya cenderung tinggi kala itu, merapat ke Indonesia yang notabene memiliki jalur perdagangan laut strategis Selat Malaka. Selat ini menjadi tempat favorit untuk bersandarnya kapal-kapal dagang dan berjumpanya para pedagang yang juga datang dari Arab dan Persia. Tidak hanya pedagang, namun juga para pelarian perang besar antar golongan dalam masyarakat yang terjadi masa itu di India.

Kedatangan bangsa-bangsa ini mempengaruhi banyak hal bagi masyarakat nusantara pada saat itu. Sebagian dari mereka tidak lagi menganut animisme dan dinamisme tapi menganut ajaran Hindu, sistem kerajaan-kerajaan dibenahi hingga muncul kerajaan-kerajaan besar seperti Kutai, Tarumanegara, dan Sriwijaya. Tidak hanya reformasi dalam bidang politik dan kepercayaan, namun juga bahasa, sastra, termasuk pula seni musik. Demikian pula ketika ajaran-ajaran lain masuk, Islam melalui bangsa Arab dan Kristen bersama bangsa Eropa. Sejak datangnya bangsa-bangsa ini beserta kebudayaannya masing-masing hingga kolonialisme menjejakkan kaki di Indonesia, terjadi perkembangan yang signifikan di dunia kesenian Indonesia. Ini ditandai dengan berkembangnya alat-alat dan aliran-aliran musik, seperti gamelan dengan versi baru, gambus, rebana, hingga keroncong.

Revolusi musik modern yang terjadi di negeri Barat turut mempengaruhi peta musi di tanah air. Termasuk ketika gitar listrik diperkenalkan di tahun 1930-an dan ketika agen-agen kebudayaan pop dan rock 'n roll melanda Amerika dan Eropa yang diwakili oleh sederet nama semacam Frank Sinatra, Elvis Priesley, dan The Beatles, yang menjadi ikon musik populer. Pengaruh ini didatangkan ke Indonesia bersama cakram piringan hitam di kalangan tertentu. Masuknya televisi di Indonesia kemudian menjadi salah satu corong penyampai musik gaya baru ini.

Di awal abad ke-18 para pemusik Barat didukung penuh oleh gereja dan aristokrat. Belum ada yang namanya komersialisasi musik. Lalu setelahnya, Mozart dan kawan-kawan mulai mencari peluang komersial untuk memasarkan musik dan pertunjukan mereka kepada masyarakat umum.

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, mulai lahir label-label kecil yang mengambil keuntungan tidak hanya dari penjualan tiket semata. Piringan hitam menjadi sumber keuntungan baru dengan merekam konser langsung para musisi lalu memperbanyak dan menjualnya ke khalayak dengan jumlah yang masih terbatas. Beberapa nama menjadi pemain dalam bisnis baru ini; The Gramophone Company, Columbia Records, Victor Talking Machine Company dan lainnya yang beberapa waktu kemudian juag melahirkan industri baru sekelas Universal Music Group, Sony Music Entertainment, Warner Music Group dan EMI Group.

Industri rekaman yang kini kita kenal dengan terminologi major label ini sama halnya dengan perusahaan dagang lainnya. Mereka mengatur segala tetek bengek yang bersangkutan dengan pemasaran rekaman, memikirkan distribusinya, menyusun formula promosinya. Tentu saja, pemusik di situ cuma terandai barang dagangan. Mereka harus berdaya jual yang mesti melalui serangkai seleksi ketat pula dalam proses rekrutmen, meskipun sudah tentu nantinya harus menuruti tata cara yang diberlakukan oleh perusahaan, itu pun masih melewati proses sensor yang jangan pernah terbayang akan selonggar keinginan kita.

Pada akhirnya, label independen lah yang menjadi perbincangan kita. Ketatnya aturan tersebut yang bermuara pada keinginan band-band penolak kompetisi untuk mengurus sendiri albumnya. Bisa jadi juga mulanya mereka adalah barisan musisi-musisi yang patah hati karena demonya tak kunjung mendapat sambutan dari perusahaan rekaman atau bisa juga ini sekedar batu loncatan dengan harapan nanti pada finalnya mendapat perhatian dari perusahaan rekaman. Maka dipilihlah jalan independen. Urus-mengurus rekaman bisa disamakan sejak mulai proses produksi; memilih studio rekaman yang mumpuni, memilah jenis sound sesuai keinginan, memikirkan titik-titik distribusi, mau dijual atau digratiskan, merancang sampul album, berformat CD ataupun digital, menggarap poster publikasi serta metode promosi lainnya, menggelar konser peluncuran album, dan mengatur sendiri jadwal pertunjukkan. Apapun alasannya, di titik ini kemandirian menang telak.

Internet patut mendapat pujian rasa terima kasih bagi para musisi independen yang ingin menyebar kabar dan rekaman mereka hingga ke seluruh dunia. Biaya produksi dan distribusi bisa ditekan amat jauh. Dan pembajakan yang amat ditakutkan oleh perusahaan rekaman, menjadi siasat yang sangat jitu dan menguntungkan bagi si musisi untuk mengenalkan band dan karya mereka. Semakin banyak orang mengkopi lagu mereka, berarti semakin banyak yang mendengar dan mengenalinya.

Ada kabar baik lagi datang hari ini--di tengah-tengah istilah indie atau independen yang justru menjadi sebuah tren baru bagi para pengejar keuntungan--bahwa event bertajuk "Saturday Channel" menjadi media bagi musisi-musisi independen di Kota Palembang untuk dapat saling menyapa, memberi dan menerima perihal segala informasi yang berkaitan dengan independensi dalam bermusik, yang termasuk didalamnya pengalaman membentuk dan mengelola sendiri sebuah band, mengatur prosesi perekaman album secara mandiri sejak memproduksinya, mempromosikan, mendistribusikan dan strategi-strategi ampuh lainnya. Dan pastinya dengan menghadirkan band-band independen di Kota Palembang untuk berpentas dan berdiskusi; Grey, The ICU, dan [C54].

Hanya ada harapan kecil bagi kami pasca event kali ini, yaitu ada bekal baru untuk menyemangati kembali kemandirian agar tak tumpul dimangsa dunia yang serba instan.





Stupidzero: Emosi Tanpa Keramaian




Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Jaraknya cuma kisaran 80 kilometer dari Kota Medan. Kota tempat pelukis Pak Tino Sidin berasal ini, menyimpan sejarah kelam saat meletusnya kerusuhan di tahun 1998 yang menjalar menjadi isu rasial.  Ah, semoga saja itu semua cukup menjadi pembelajaran dan kiranya traumatis sejarah itu dapat terobati dengan mencicip kelezatan jajanan khas lemang dan kue kacang rajawalinya.

Tak disangka-sangka, di kota perlintasan lalu lalang transportasi antar provinsi ini, gemuruh grunge terdengar hingga kota-kota dan provinsi-provinsi sekitarnya bahkan ke negeri tetangga, Malaysia. Gejalanya terasa di kisaran 1996. Band-band lokal sekira Nirvana dan Sonic Youth bermunculan. Stupid Zero menjadi salah satu yang masih berdiri hingga kini. Mereka terbentuk hampir 15 tahun yang lalu, atau tepatnya 10 Oktober 1997. Dengan meng-cover lagu-lagu dari The Need dan varian Seattle Sound, band ini menjelajah panggung di event-event komunitas underground Sumatera Utara.

Tidak mudah untuk mempertahankan sebuah band di masa-masa kritis yang melanda Kota Tebing Tinggi di era-era itu. Senasib dengan band-band lain, mereka mesti berhadapan dengan penolakan studio-studio musik yang memasang plakat larangan bagi band punk maupun grunge untuk berlatih di studio musik kolot ini. Dan ini bukan satu-satunya kendala. Keterbatasan pengadaan event juga mereka rasakan sebagai imbas dari mahalnya tarif gedung hingga proses birokrasi yang seperti benang kusut.

Secara internal, Stupidzero mesti merombak berulang-ulang formasi dalam tubuhnya hingga menjadi sebuah band yang solid. Format terkini yakni berempat-- Ivan Tigabelas gitaris sekaligus vokalis, Oyde pemeran gitaris, Boy pemain bas, Pudja Rahim di posisi gitar, dan Yudhi pemukul drum--dimulai tahun 2007 silam yang aktif berkarya hingga saat ini. Ritme perjalanan hidup band ini membawa mereka berproses menuju apa yang sebagian orang sebut sebagai pendewasaan. Nanti dulu, warna musik mereka yang kini bernuansa post rock atau experimental bukan berdasar kehendak pasar. Seperti yang kubilang tadi, bahwa ini meruoakan bagian dari proses panjang pergelutan mereka melawan kemonotonan. Dan itu terjawab dengan karya-kerya yang sepintas lalu beraroma shoegaze dan noise, yang juga akan kau temui kompleksitas pada lirik-liriknya.

Ivan Tigabelas, sang vokalis sekaligus si penulis lagu yang menggemari penyair Chairil Anwar, percaya bahwa sebuah lagu akan hambar tanpa kekuatan lirik didalamnya. Coba kau simak single "Tiga Kali Lebih Tenang" yang pernah diikutsertakan dalam kompilasi Total Feedback vol.VI di Jakarta tahun 2011 silam, atau single berjudul “Aku Tinggalkan Kau di Pintu Terakhir” di kompilasi Grungee Jumping-Noise Grunge Compilation tahun 2011. Disitulah akan kau lihat betapa lirik menjadi roh dalam sebuah lagu, dan tentu saja dengan musikalitas yang tak kalah kualitasnya.

Selain dua kompilasi yang kusebut di atas, Stupidzero juga melibatkan single "Tiga Kali Lebih Tenang" versi remix di kompilasi Asal Malaysia, Gerakan Grunge Bangkit di tahun 2011. Lalu tahun 2012, single yang sama juga tergabung dalam kompilasi Surabaya, Grunge Indonesia yangmana CD-nya dipaketkan dalam buku pergerakan subkultur grunge di Indonesia bertajuk "Perjalanan Grunge Indonesia". Setahun setelahnya, yakni 2012, single "Tidak Sedang Sadar" dilibatkan dalam Maximum Grunge Compilation dari Kota Bandung. Berlanjut dengan cover single Nirvana "You Know You're Right" dalam Indonesian Tribute to Nirvana Compilation di Jakarta, dan single "Experimentalia Menuju Surga" di Malaysia yang kini dalam proses penyelesaian.

Kesibukan Stupidzero menggarap full album telah dimulai sejak 2007 lampau, termasuk video klip untuk single "Tidak Sedang Sadar". Akhirnya, setelah berkonsentrasi cukup lama, album Anomalia siap rilis di kisaran Agustus tahun ini. Seluruhnya berisi 12 track segar yang kesemuanya dimatangkan di Chinese Food Record milik Ivan Tigabelas di Kota Tebing Tinggi, yang juga akan dirilis oleh dua label nasional yakni The Drexter asal Kota Depok dan Erassed Record dari Jakarta.

Album dalam format CD sebanyak 1.000 copy ini sangat berwarna karena bereferensi dengan band-band semisal Sigur Ros, Radiohead, Mogwai, Nirvana, Sonic Youth, Sleep Party People, Placebo, Merzbow, Boris, Blgtz, Bjork, The Doors, dan tentu saja yang tak terlupakan, Chairil Anwar.



Ego dan Alter Ego




Saya baru saja membaca ulang sebuah novel karya Sidney Sheldon yang berjudul "Tell Me Your Dreams". Novel tersebut berkisah hampir sama dengan kisah dalam film "Fight Club" yang diperankan oleh Edward Norton dan Brad Pitt. Masih ingat film ini? Betul sekali. Film keren dan cerdas ini mengangkat kisah dua kepribadian yang terangkum dalam satu tubuh. Tokoh sekaligus narator tak bernama yang diperankan oleh Norton, mengenal Tyler Durden sebagai seorang teman tanpa Ia sadari bahwa Durden merupakan bagian dari dirinya. Dalam dunia nyata, hal yang serupa dengan apa yang dialami tokoh dalam film di atas dinamai gangguan kepribadian ganda atau multiple personality disorder, lalu demi alasan kenyamanan belakangan diberi nama gangguan identitas disosiatif atau dissociative identity disorder.

Diberi nama "gangguan" karena memang pada umumnya para pengidapnya merasa terganggu dengan adanya kepribadian lain atau alter ego yang merebut kendali perilaku dalam dirinya. Dalam kasus film di atas, "pemilik asli tubuh"  tidak menyadari bahwa alter ego  tersebut adalah bagian dari dirinya, meskipun kepribadian yang lain menyadari hal itu. Dalam kasus-kasus kepribadian ganda, tidak selamanya ego mengenal alter ego sebagai teman khayalan, teman nyata atau orang-orang lain, tapi terdapat banyak kasus yangmana si ego tidak menyadari bahwa dirinya telah dikuasai oleh alter ego-alter ego itu.

Sangat mungkin kepribadian ganda sudah ada sejak zaman manusia baru mengenal peradaban. Disinyalir di masa itu para pengidapnya dikaitkan dengan orang yang kerasukan roh-roh halus. Sayangnya tidak ada pencatatan-pencatatan untuk membuktikan hal ini. Lalu di tahun 1815, kasus serupa gangguan kepribadian ganda terdiagnosa pada Mary Reynolds sebagai kasus pertama kali yang tercatat di Amerika. Tidak ada yang berani menyimpulkan hal apa yang menimpa Mary Reynolds sampai pada akhirnya kasus Sybil Isabel Dorset mencuat di tahun 1973.

Sybil Isabel Dorset yang bernama asli Shirley Ardell Mason di diagnosa mempunya banyak kepribadian. Bermula dari kegelisahannya terhadap beberapa kejadian hariannya yang tidak Ia ingat sama sekali, maka Sybil berinisiatif mengunjungi Dr. Cornelia B. Wilbur, seorang psikiater di kotanya. Hasil diagnosa Wilbur, mengungkap bahwa Sybil memiliki enam belas kepribadian yang berbeda watak, nama, usia dan jenis kelamin. 

Masing-masing alter ego saling berhubungan dan menjaga satu sama lain bahkan saling berbagi peran dengan kemampuan yang berbeda-beda. Alter ego yang pandai secara ekonomi akan berperan  mengatur sistem keuangan Sybil, alter ego yang pandai berkomunikasi akan ada ketika dirinya berhadapan dengan orang-orang lain. Tiap-tiap alter memiliki karakter yang juga berbeda. Seperti alter ego bernama Sid Vicious yang mewakili karakter dalam dirinya yang bengal, atau karakter ibu kandung Sybil yang perannya untuk menjaga kerukunan semua kepribadian yang ada. Dalam kasus-kasus serupa, terdapat alter ego-alter ego yang berbeda ras, agama, jenis kelamin, dan gaya bicara. Bagaimana mungkin belasan bahkan ratusan kepribadian berkumpul dalam satu tubuh?

Analisis beberapa ahli mentalis menyatakan bahwa pemicu utama kepribadian ganda ini adalah trauma mental pada saat si pengidap berusia kanak-kanak. Usia pra remaja merupakan masa yang sangat berpotensi untuk itu, mengingat pada usia ini mental manusia cenderung rapuh. Sederhananya begini, ketika seorang anak kecil mengalami kekerasan baik fisik ataupun mental, menjadi "diri" orang lain adalah satu-satunya jalan untuk berlindung dari kejaran traumatis. Ia akan memecah kepribadiannya dan memilih pribadi atau lain termasuk menciptakan tokoh yang ideal. Semakin sering kekerasan-kekerasan lain terjadi, semakin banyak koleksi identitas ia miliki. Tentu saja akan ada alter ego yang bersifat baik untuk mewakili rasa takut dan kesedihan, serta ada alter ego jahat yang mewakili dendam dan rasa ingin berontak. Sebuah penghalang memori kemudian dibangun antara anak itu dengan identitas baru yang telah diciptakan. Dalam beberapa waktu ia akan melupakan peristiwa-peristiwa menyakitkan yang pernah ia alami sekaligus melupakan pribadi yang pernah ia ciptakan. Lalu adakalanya menjelang dewasa, pengalaman-pengalama buruk di masa lalu itu terulang dalam memori yang tidak terkunci rapat di otak si pengidap dan mengambil alih tubuh dalam seketika, atau dalam bahasa kejiwaan diberi istilah switching. 

Sumber masalah berikutnya adalah ketika kepribadian utama tanpa sengaja lebih mengasah dendam dalam alter ego yang bersifat jahat. Seperti yang dialami oleh William Stanley Milligan atas Billy Milligan, yang didakwa tidak bersalah atas kasus perkosaan yang terbukti "Ia" lakukan terhadap tiga perempuan di Ohio, Amerika Serikat, karena berdasarkan penyidikan ternyata Billy memiliki 24 kepribadian. Ia menjadi orang pertama yang lolos dari jeratan hukum karena gangguan yang diidapnya. 

Tidak berbeda jauh dengan Billy Milligan yang mengalami kekerasan masa kecil berupa pelecehan seksual yang dilakukan oleh ayah tirinya, semasa kecil Sybil mengalami perlakuan kasar dan penyiksaan yang dilakukan oleh ibunya sehingga mendorongnya menciptakan pribadi-pribadi yang "diharapkan" oleh sang ibu.

Perdebatan terjadi antar para mentalis pada saat itu yang meragukan hasil diagnosa Dr. Cornelia B. Wilbur terhadap Sybil yang dianggap terlalu mengada-ada. Meski begitu ada hal-hal yang tidak bisa disangkal oleh para ahli tersebut, yakni dimana masing-masing kepribadian yang ada, memiliki keahlian masing-masing yang justru tidak bisa dilakukan oleh si pribadi utama. Semisal beberapa kepribadian Sybil yang pandai bermain piano, melukis dan berbahasa asing, walau pada kenyataannya Ia sama sekali belum pernah mempelajarinya. Ini pula yang pada akhirnya menjadi tiket kebebasan bagi Billy Milligan dan "diri-dirinya" yang lain setelah berhasil melewati serangkaian uji kebohongan.