Kamis, 02 Agustus 2012

Stupidzero: Emosi Tanpa Keramaian




Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Jaraknya cuma kisaran 80 kilometer dari Kota Medan. Kota tempat pelukis Pak Tino Sidin berasal ini, menyimpan sejarah kelam saat meletusnya kerusuhan di tahun 1998 yang menjalar menjadi isu rasial.  Ah, semoga saja itu semua cukup menjadi pembelajaran dan kiranya traumatis sejarah itu dapat terobati dengan mencicip kelezatan jajanan khas lemang dan kue kacang rajawalinya.

Tak disangka-sangka, di kota perlintasan lalu lalang transportasi antar provinsi ini, gemuruh grunge terdengar hingga kota-kota dan provinsi-provinsi sekitarnya bahkan ke negeri tetangga, Malaysia. Gejalanya terasa di kisaran 1996. Band-band lokal sekira Nirvana dan Sonic Youth bermunculan. Stupid Zero menjadi salah satu yang masih berdiri hingga kini. Mereka terbentuk hampir 15 tahun yang lalu, atau tepatnya 10 Oktober 1997. Dengan meng-cover lagu-lagu dari The Need dan varian Seattle Sound, band ini menjelajah panggung di event-event komunitas underground Sumatera Utara.

Tidak mudah untuk mempertahankan sebuah band di masa-masa kritis yang melanda Kota Tebing Tinggi di era-era itu. Senasib dengan band-band lain, mereka mesti berhadapan dengan penolakan studio-studio musik yang memasang plakat larangan bagi band punk maupun grunge untuk berlatih di studio musik kolot ini. Dan ini bukan satu-satunya kendala. Keterbatasan pengadaan event juga mereka rasakan sebagai imbas dari mahalnya tarif gedung hingga proses birokrasi yang seperti benang kusut.

Secara internal, Stupidzero mesti merombak berulang-ulang formasi dalam tubuhnya hingga menjadi sebuah band yang solid. Format terkini yakni berempat-- Ivan Tigabelas gitaris sekaligus vokalis, Oyde pemeran gitaris, Boy pemain bas, Pudja Rahim di posisi gitar, dan Yudhi pemukul drum--dimulai tahun 2007 silam yang aktif berkarya hingga saat ini. Ritme perjalanan hidup band ini membawa mereka berproses menuju apa yang sebagian orang sebut sebagai pendewasaan. Nanti dulu, warna musik mereka yang kini bernuansa post rock atau experimental bukan berdasar kehendak pasar. Seperti yang kubilang tadi, bahwa ini meruoakan bagian dari proses panjang pergelutan mereka melawan kemonotonan. Dan itu terjawab dengan karya-kerya yang sepintas lalu beraroma shoegaze dan noise, yang juga akan kau temui kompleksitas pada lirik-liriknya.

Ivan Tigabelas, sang vokalis sekaligus si penulis lagu yang menggemari penyair Chairil Anwar, percaya bahwa sebuah lagu akan hambar tanpa kekuatan lirik didalamnya. Coba kau simak single "Tiga Kali Lebih Tenang" yang pernah diikutsertakan dalam kompilasi Total Feedback vol.VI di Jakarta tahun 2011 silam, atau single berjudul “Aku Tinggalkan Kau di Pintu Terakhir” di kompilasi Grungee Jumping-Noise Grunge Compilation tahun 2011. Disitulah akan kau lihat betapa lirik menjadi roh dalam sebuah lagu, dan tentu saja dengan musikalitas yang tak kalah kualitasnya.

Selain dua kompilasi yang kusebut di atas, Stupidzero juga melibatkan single "Tiga Kali Lebih Tenang" versi remix di kompilasi Asal Malaysia, Gerakan Grunge Bangkit di tahun 2011. Lalu tahun 2012, single yang sama juga tergabung dalam kompilasi Surabaya, Grunge Indonesia yangmana CD-nya dipaketkan dalam buku pergerakan subkultur grunge di Indonesia bertajuk "Perjalanan Grunge Indonesia". Setahun setelahnya, yakni 2012, single "Tidak Sedang Sadar" dilibatkan dalam Maximum Grunge Compilation dari Kota Bandung. Berlanjut dengan cover single Nirvana "You Know You're Right" dalam Indonesian Tribute to Nirvana Compilation di Jakarta, dan single "Experimentalia Menuju Surga" di Malaysia yang kini dalam proses penyelesaian.

Kesibukan Stupidzero menggarap full album telah dimulai sejak 2007 lampau, termasuk video klip untuk single "Tidak Sedang Sadar". Akhirnya, setelah berkonsentrasi cukup lama, album Anomalia siap rilis di kisaran Agustus tahun ini. Seluruhnya berisi 12 track segar yang kesemuanya dimatangkan di Chinese Food Record milik Ivan Tigabelas di Kota Tebing Tinggi, yang juga akan dirilis oleh dua label nasional yakni The Drexter asal Kota Depok dan Erassed Record dari Jakarta.

Album dalam format CD sebanyak 1.000 copy ini sangat berwarna karena bereferensi dengan band-band semisal Sigur Ros, Radiohead, Mogwai, Nirvana, Sonic Youth, Sleep Party People, Placebo, Merzbow, Boris, Blgtz, Bjork, The Doors, dan tentu saja yang tak terlupakan, Chairil Anwar.



Ego dan Alter Ego




Saya baru saja membaca ulang sebuah novel karya Sidney Sheldon yang berjudul "Tell Me Your Dreams". Novel tersebut berkisah hampir sama dengan kisah dalam film "Fight Club" yang diperankan oleh Edward Norton dan Brad Pitt. Masih ingat film ini? Betul sekali. Film keren dan cerdas ini mengangkat kisah dua kepribadian yang terangkum dalam satu tubuh. Tokoh sekaligus narator tak bernama yang diperankan oleh Norton, mengenal Tyler Durden sebagai seorang teman tanpa Ia sadari bahwa Durden merupakan bagian dari dirinya. Dalam dunia nyata, hal yang serupa dengan apa yang dialami tokoh dalam film di atas dinamai gangguan kepribadian ganda atau multiple personality disorder, lalu demi alasan kenyamanan belakangan diberi nama gangguan identitas disosiatif atau dissociative identity disorder.

Diberi nama "gangguan" karena memang pada umumnya para pengidapnya merasa terganggu dengan adanya kepribadian lain atau alter ego yang merebut kendali perilaku dalam dirinya. Dalam kasus film di atas, "pemilik asli tubuh"  tidak menyadari bahwa alter ego  tersebut adalah bagian dari dirinya, meskipun kepribadian yang lain menyadari hal itu. Dalam kasus-kasus kepribadian ganda, tidak selamanya ego mengenal alter ego sebagai teman khayalan, teman nyata atau orang-orang lain, tapi terdapat banyak kasus yangmana si ego tidak menyadari bahwa dirinya telah dikuasai oleh alter ego-alter ego itu.

Sangat mungkin kepribadian ganda sudah ada sejak zaman manusia baru mengenal peradaban. Disinyalir di masa itu para pengidapnya dikaitkan dengan orang yang kerasukan roh-roh halus. Sayangnya tidak ada pencatatan-pencatatan untuk membuktikan hal ini. Lalu di tahun 1815, kasus serupa gangguan kepribadian ganda terdiagnosa pada Mary Reynolds sebagai kasus pertama kali yang tercatat di Amerika. Tidak ada yang berani menyimpulkan hal apa yang menimpa Mary Reynolds sampai pada akhirnya kasus Sybil Isabel Dorset mencuat di tahun 1973.

Sybil Isabel Dorset yang bernama asli Shirley Ardell Mason di diagnosa mempunya banyak kepribadian. Bermula dari kegelisahannya terhadap beberapa kejadian hariannya yang tidak Ia ingat sama sekali, maka Sybil berinisiatif mengunjungi Dr. Cornelia B. Wilbur, seorang psikiater di kotanya. Hasil diagnosa Wilbur, mengungkap bahwa Sybil memiliki enam belas kepribadian yang berbeda watak, nama, usia dan jenis kelamin. 

Masing-masing alter ego saling berhubungan dan menjaga satu sama lain bahkan saling berbagi peran dengan kemampuan yang berbeda-beda. Alter ego yang pandai secara ekonomi akan berperan  mengatur sistem keuangan Sybil, alter ego yang pandai berkomunikasi akan ada ketika dirinya berhadapan dengan orang-orang lain. Tiap-tiap alter memiliki karakter yang juga berbeda. Seperti alter ego bernama Sid Vicious yang mewakili karakter dalam dirinya yang bengal, atau karakter ibu kandung Sybil yang perannya untuk menjaga kerukunan semua kepribadian yang ada. Dalam kasus-kasus serupa, terdapat alter ego-alter ego yang berbeda ras, agama, jenis kelamin, dan gaya bicara. Bagaimana mungkin belasan bahkan ratusan kepribadian berkumpul dalam satu tubuh?

Analisis beberapa ahli mentalis menyatakan bahwa pemicu utama kepribadian ganda ini adalah trauma mental pada saat si pengidap berusia kanak-kanak. Usia pra remaja merupakan masa yang sangat berpotensi untuk itu, mengingat pada usia ini mental manusia cenderung rapuh. Sederhananya begini, ketika seorang anak kecil mengalami kekerasan baik fisik ataupun mental, menjadi "diri" orang lain adalah satu-satunya jalan untuk berlindung dari kejaran traumatis. Ia akan memecah kepribadiannya dan memilih pribadi atau lain termasuk menciptakan tokoh yang ideal. Semakin sering kekerasan-kekerasan lain terjadi, semakin banyak koleksi identitas ia miliki. Tentu saja akan ada alter ego yang bersifat baik untuk mewakili rasa takut dan kesedihan, serta ada alter ego jahat yang mewakili dendam dan rasa ingin berontak. Sebuah penghalang memori kemudian dibangun antara anak itu dengan identitas baru yang telah diciptakan. Dalam beberapa waktu ia akan melupakan peristiwa-peristiwa menyakitkan yang pernah ia alami sekaligus melupakan pribadi yang pernah ia ciptakan. Lalu adakalanya menjelang dewasa, pengalaman-pengalama buruk di masa lalu itu terulang dalam memori yang tidak terkunci rapat di otak si pengidap dan mengambil alih tubuh dalam seketika, atau dalam bahasa kejiwaan diberi istilah switching. 

Sumber masalah berikutnya adalah ketika kepribadian utama tanpa sengaja lebih mengasah dendam dalam alter ego yang bersifat jahat. Seperti yang dialami oleh William Stanley Milligan atas Billy Milligan, yang didakwa tidak bersalah atas kasus perkosaan yang terbukti "Ia" lakukan terhadap tiga perempuan di Ohio, Amerika Serikat, karena berdasarkan penyidikan ternyata Billy memiliki 24 kepribadian. Ia menjadi orang pertama yang lolos dari jeratan hukum karena gangguan yang diidapnya. 

Tidak berbeda jauh dengan Billy Milligan yang mengalami kekerasan masa kecil berupa pelecehan seksual yang dilakukan oleh ayah tirinya, semasa kecil Sybil mengalami perlakuan kasar dan penyiksaan yang dilakukan oleh ibunya sehingga mendorongnya menciptakan pribadi-pribadi yang "diharapkan" oleh sang ibu.

Perdebatan terjadi antar para mentalis pada saat itu yang meragukan hasil diagnosa Dr. Cornelia B. Wilbur terhadap Sybil yang dianggap terlalu mengada-ada. Meski begitu ada hal-hal yang tidak bisa disangkal oleh para ahli tersebut, yakni dimana masing-masing kepribadian yang ada, memiliki keahlian masing-masing yang justru tidak bisa dilakukan oleh si pribadi utama. Semisal beberapa kepribadian Sybil yang pandai bermain piano, melukis dan berbahasa asing, walau pada kenyataannya Ia sama sekali belum pernah mempelajarinya. Ini pula yang pada akhirnya menjadi tiket kebebasan bagi Billy Milligan dan "diri-dirinya" yang lain setelah berhasil melewati serangkaian uji kebohongan.




Di Mana Kau Letakkan Puisinya, Perempuan?




Berhentilah menyusupkan lalat ke dalam cangkir kopiku
yang diracik oleh tahi mata demi kejutan pagi hari.
Bahkan mi instan,
yang kini terlalu malu untuk hidang di atas perapian itu,
mulai membuat jengkel atas jejak-jejaknya dilambungku.

Ataukah kau coba-coba meracuniku dengan karat
yang meleleh di tepi-tepi panci
untuk lantas mengumpulkan serdadu semut
yang menggalang aksi protes
menuntut bon gula dari warung tetangga?

Dan perempuan, berhentilah kau cucikan
pakaianku dengan pertaruhan senyumku
yang bercorak kelelaki-lelakian,
tersungging kaku di sudut bibir
ketika mendapati pantatmu menungging
sekembaliku memburuh di pergadaian kodrati.
Serahkan semua beban tugasmu
pada kebesaran lembaga Leasing yang maha agung,
maha penjerat.


Sebuah karya yang telat dikirim kepada kawan-kawan di Pontianak
untuk event Lady Riot Fest 2 beberapa waktu lalu.



Rabu, 01 Agustus 2012

DROP OUT


"It's all about fun and rockin the sick world!"--Deadeye

Tahun 2002 silam, sebuah semangat berhasil mempersatukan tiga pemuda penyuka rock 90-an dalam sebuah band yang lalu mereka namai Drop Out. Tiga pemuda itu -- Deddy aka Deadeye yang lebih memilih gitar dan mikrofon sebagai perannya, Daffy yang memegang kendali pada bas dan juga mikrofon, lalu Atok sebagai pemukul drum dan perkusi -- tidak memiliki alasan yang terlampau spesifik untuk membangun sebuah band selain mencari kesenangan-kesenangan dalam musik ber-genre grunge.

Formasi bertiga ini eksis hingga saat ini tanpa secuil pun perombakan meski ketiganya berasal dari kabupaten berbeda yang saling berjauhan di Sumatera Selatan. "Tidak ada tips khusus, untuk saya band itu layakya keluarga kecil kita, dimana suka duka ditanggung bersama, ada masalah diselesaikan secara kekeluargaan, saling mendukung dan membimbing tapi tidak menggurui, dan menempatkan ego di urutan terakhir." tutur Deadeye perihal bagaimana mempertahankan usia sebuah band, bahkan ketika kendala-kendala datang dalam wujud waktu luang yang hilang dan kesibukan yang menjadi padat oleh urusan pekerjaan dan menafkahi keluarga.

Bermacam panggung menjadi sarana bagi Drop Out untuk menampilkan karya-karya mereka. Dari panggung lokal bahkan Nasional. Sejak festival beratmosfer spektakuler berisi manusia-manusia "normal" yang cuma manggut-manggut kecil mengikuti hentakan musik dengan wajah tolol, hingga audiens yang jumpalitan liar di panggung gigs punk. Kedekatan emosional scene grunge dan hardcore punk di Kota Palembang memungkinkan untuk itu, termasuk persoalan lokasi tongkrongan dan penggarapan  kompilasi bersama yang menjadikan Drop Out tidak membangun wacana dengan sesama scene grunge semata. Salah satunya bisa dilihat dari keterlibatan single "Sahabatku, Musuhku" dalam kompilasi di Kota Palembang, Take Control tahun 2006.

Berbagai band seluruh penjuru dunia menjadi rujukan bagi Drop Out untuk mendukung ide-idenya. Sebut saja, untuk di ranah lokal ada Cupumanik, Toilet Sounds, Freak, Klepto Opera, dan Navicula. Lalu dari negeri di luar sana ada Sheeter, Pearl Jam, Deftones, Nirvana, Silverchair, Chevelle, Staind, Puddle Of  Mudd, The Ataris, Poison Of The Well, Smashing Pumpkins, Bush, Weezer, Muse, Finch, Stone Temple Pilot, The Vines, Foo Fighter, Sonic Youth, GodSmack, 3 Doors Down, Story Of The Year, Tool, A Perfect Circle, Hole, dan banyak lagi. Drop Out tidak menampik bahwa Nirvana menjadi figur utama yang mempersatukan mereka bertiga dan menjadi panutan utamanya. Referensi dari sekian banyak band ini yang tidak membatasi Drop Out ketika akan menulis lirik, entah itu tentang perang, ketakutan, kebencian, bunuh diri, anti politik, kebahagiaan, persahabatan dan keluarga.

Lirik-lirik ini yang bisa kita temukan pada debut CD Album EP Rasa Sakit yang dirilis 2006 silam dan dalam CD album Fade In a Away yang rilis pada 2007 lampau. Lirik yang sama yang akan kita temukan dalam album Drop Out berikutnya yang sedang dalam proses perekaman yang dikelola secara mandiri, tentunya dengan tetap bersenang-bersenang dalam upaya menjadi sebuah band yang muda selamanya.


Kisah Flanel dan Para Penebang Pohon


Menelusuri sejarah flanel hampir sama sulitnya dengan mencarinya di bursa pakaian bekas. Hampir setiap artikel yang saya jumpai mengeratkannya dengan grunge movement yang melanda di era 90-an. Lagi-lagi Nirvana dan gerombolannya dianggap sebagai pemicu mewabahnya tren penggunaan kemeja tebal bermotif kotak-kotak ini.

Bagi sebagian orang, flanel alias felt, ditaksir merupakan jenis kain tertua dalam sejarah manusia. Ini ditandai dengan penemuan bekas-bekas kain serupa flanel yang diketemukan di Turki dan ditaksir berasal dari tahun 6.500 SM. Hal serupa juga ditemukan di sebuah makam di Siberia dalam kondisi telah diawetkan dan diperkirakan berasal dari tahun 600 M. Meskipun begitu, asal muasal penggunaan flanel  zaman semi modern hingga saat ini masih menjadi bahan pertanyaan, tapi disinyalir pertama kali digunakan di Wales dan Inggris barat daya pada abad ke-16--yang menyebutnya flannelette. Para petani bangsa Welsh di dataran Inggris diketahui mulai mengenakan kain berbahan flanel yang cukup tebal karena terbuat dari serat wol tanpa ditenun untuk melindungi diri mereka dari reranting pepohonan dan karang. Tidak hanya itu, tapi kala itu bahan flanel juga digunakan untuk keperluan lain semisal karpet di ruangan kaum bangsawan, topi berkuda, syal, alas tidur dan selimut. Lalu kain flanel mulai menyeruak dari kepulauan Inggris dan menyebar ke pelbagai daratan Eropa lainnya seperti Perancis pada abad ke-17 dengan sebutan flanelle, dan Jerman di abad ke-18 dengan menyebutnya Flannell. Iklim empat musim dan ketersediaan bahan baku wol yang melimpah di Eropa menjadikan flanel sebagai salah satu bahan pakaian alternatif ketika cuaca dingin mendera.

Seiring dengan Revolusi Industri, di abad ke-18 produksi flanel yang mulanya hanya diproduksi secara rumahan dan tradisional akhirnya mulai menjadi produk pabrikasi. Ia mulai dicetak secara massal, tentu saja ketika permintaan akan flanel semakin meningkat. Karena perhitungan ekonomis, bahan baku wol yang dinilai mahal ditambah atau digantikan dengan serat kapas dan sutera serta beberapa serat sintetis. Perusahaan Carhartt yang bergerak di industri garmen asal Michigan, Amerika Serikat, milik Hamilton Carhartt di tahun 1889 mengklaim sebagai penemu pertama kemeja berbahan baku flanel termasuk motif kotak-kotak yang terinspirasi oleh Kilt atau pakaian tradisional Skotlandia, walau tidak semua yang bermotif kotak-kotak itu adalah flanel demikian pula sebaliknya. Semuanya diawali dengan order pertama Hamilton Carhartt untuk memenuhi kebutuhan seragam para pekerja kereta api Amerika yang tahan di segala medan, nyaman namun tetap trendi.

Di awal abad ke-20 produksi flanel khususnya untuk pakaian mulai disesuaikan dengan beberapa musim selain musim dingin. Beberapa diantaranya dirancang untuk di cuaca hangat yakni dengan memaksimalkan pencampuran katun dan sutera serta kapas sehingga kemeja flanel menjadi lebih ringan. Di abad yang sama, ketika flanel masuk ke Amerika Utara, flanel--terutama dengan motif kotak-kotak, diidentikkan dengan orang-orang udik, para pekerja kerah biru, terutama petani, penggembala, pekerja tambang, penebang pohon, dan mereka yang bekerja di luar ruangan. Daya tahan bahannya, kemudahannya untuk dicuci serta juga kehangatannya, sangat ideal sehingga memungkinkan mereka bebas bergerak dan bekerja berlama-lama di bawah suhu yang dingin. Sejak itu, para penebang pohon disimbolkan dengan sepasang sepatu boots dan flanel.



Ketika Perang Dunia I melanda, flanel digunakan sebagai bahan alternatif pengganti perban di rumah sakit-rumah sakit dan perlengkapan tentara termasuk untuk seragam dan selimut selama di medan pertempuran. Depresi ekonomi besar-besaran pasca perang yang melanda Eropa menjadikan pakaian berbahan flanel sebagai pilihan utama karena lebih murah dan tahan lama bila dibandingkan dengan pakaian katun. Realita ini membiaskan status sosial yang sebelumnya disimbolkan dengan pola berpakaian seseorang. Yang mulanya flanel identik dengan kelas bawah, pada akhirnya menjadi milik seluruh lapisan sosial. Di masa ini pula flanel diidentikkan dengan kelelaki-lelakian.

Entah apakah memang berhubungan dengan tempat asalnya di Aberdeen yang bercuaca dingin dan didominasi oleh para penebang pohon berflanel, ataukah karena dengan sengaja mengenakan flanel sebagai simbol kelas bawah, Kurt Cobain dianggap mempopulerkan kembali kemeja flanel bermotif kotak-kotak di era 90-an. Masa keemasan grunge saat itu ditandai dengan perubahan pola berpakaian para pemuda subkultur. Tidak ada lagi jaket kulit yang sempat berjaya oleh kalangan glam rock dan hair metal. Mereka beramai-ramai mengenakan kombinasi flanel, jeans, dan boots juga sneakers.

Bagaimana dengan sekarang? Meski kini beragam produk dan beraneka merk telah mengenakan bahan baku flanel selain pakaian, setidaknya ada sebuah fenomena karena hampir dikenakan hanya oleh kalangan subkultur sahaja selama tiga dekade terakhir. Hebatnya, nyaris tanpa campur tangan periklanan namun menjadi kostum baru bagi para hipster untuk mengisi budayanya yang kosong.