Rabu, 01 Agustus 2012

Antara Aljabar, Teater dan Amir Hamzah

Kemandirian Amir Hamzah mulai terlihat sejak Ia kecil. Berbekal keinginan dan kreatifitas, Ia membuat sendiri mainannya termasuk layang-layang. Merakit kerangka bambunya, menggambar motif, lalu menjualnya. Meski merasa sebal dengan pelajaran berhitung, Amir Hamzah berkeinginan untuk masuk sekolah menengah kejuruan teknik demi mengejar mimpinya membuat pabrik nanas, setelah sempat melihat berlimpahnya buah bersisik ini di daerah yang tak jauh dari kampung halamannya. Niat ini diurungkan, masih dengan alasan yang sama: menghindari aljabar. Maka pilihannya jatuh pada Sekolah Seni Rupa Indonesia Yogyakarta. Namun hanya bertahan satu semester. Sastra minang, termasuk karya-karya penulis besar semisal Hamka dan Marah Rusli--yang sering dibacanya semasa kecil—mencubit hasratnya untuk memperuncing ilmu di tanah Padang. Tahun 1976 Ia berpindah ke Sekolah Seni Rupa Indonesia Padang, dan menetap tiga setengah tahun lamanya. Tempat dimana menjadi panggung pertunjukan pertama yang.Ia sambangi.

Minat membacanya tumbuh saat sekolah menengah pertama. “Bapak saya polisi. Dan temannya yang berasal dari Belanda mewarisi satu lemari penuh buku-buku.” Aneka bacaan ini merebut perhatian Amir sepenuhnya. Hampir seluruh majalah yang terbit di Indonesia Ia beli tanpa pernah peduli apa genre-nya. Bahkan seringkali Ia membantu memberikan informasi-informasi seputar mata pelajaran dan berita umum kepada guru-gurunya di Padang.

Amir Hamzah tidak menyelesaikan pendidikannya di kota Padang. Tahun 1978 Ia pulang ke Palembang, dan tak lama kemudian memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta. Di Jogja Ia mengambil kursus membatik di sebuah balai pelatihan batik. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik setelah kursus selama tiga bulan, dan sempat pula mengambil kursus gitar klasik. Kemandiriannya kembali diuji. Tanah perantauan menuntut kreatifitas untuk bertahan hidup. Dan Amir Hamzah menemukan banyak peluang di kota gudeg ini. Ia datangi satu persatu galeri-galeri hotel untuk menjual batik lukis karyanya. Suatu ketika, Ia diundang ke acara halal bihalal.oleh mendiang Amri Yahya, perupa asal Sumatera Selatan yang menetap di Yogyakarta. Disini Amir Hamzah berkenalan dengan Yati Pesek, artis peran yang lebih dikenal sebagai seorang komedian. Melalui Yati pula lah Amir mendapat pembelajaran gamelan dan ketoprak. Sempat pula Ia berakting sebagai Buto Ijo dalam sandiwara panggung yang berkisah tentang kerajaan Majapahit. Seorang adik Amri yahya memberikan dukungan pada Amir untuk menekuni dunia peran, karena melihat potensi yang dimiliki olehnya. Melalui sebuah surat kabar, Ia memperoleh informasi bahwa Teater Alam di Yogyakarta membuka kursus pendidikan akting. Setelah berjalan selama sepuluh bulan, Amir dinyatakan sebagai lulusan terbaik, bahkan satu-satunya yang lulus tanpa mesti mengulang.

Jalan mulai terbuka lebar. Bersama Teater Alam, Ia melakukan pentas di banyak tempat hingga kurun empat tahun. Saat itu Indonesia sedang dilanda demam pembuatan film. Amir melihat peluang ini untuk mengasah kemampuannya berperan. Sempat ia menjadi pemeran figuran di film “Pendekar Liar,” “Banteng Mataram,” “Sembilan Wali” dan sederet judul lainnya. 1985 hingga 1986, Amir diminta menjadi kordinator arisan teater-teater Jogja. Dan setelah itu Ia kembali ke Palembang. Kelak pengalamannya selama sembilan tahun di Jogja ini menjadi salah satu bagian hidupnya yang paling meninggalkan kesan.

Kepulangannya ke Palembang tidak menyurutkan kemandiriannya. Ia membawa pulang beberapa kerajinan Jogja berbentuk kartu lebaran, dan menjualnya di Jalan Sudirman Palembang. Disini Ia berkenalan dengan Iir Stoned dan teman-teman, termasuk juga Asril Chaniago dari Teater Kembara, yang pada akhirnya menawarinya mengajar teater di sekolah menengah atas Xaverius I Palembang. Di sekolah ini Amir melatih teater selama dua tahun ajaran. Tahun 1998, Ia diminta oleh mantan guru pelatih teaternya semasa di Jogja untuk turut dalam pembacaan puisi kolosal bersama Sanggar Sastra Radio Republik Indonesia Palembang di peresmian Monumen Penderitaan Rakyat atau Monpera. Pada kesempatan yang sama, Amri Yahya memintanya untuk menyusun data-data sejarah yang akan mengisi Monpera. Dua belas tahun lamanya Amir bekerja sebagai guide di Monpera yang saat itu mulai dibuka untuk umum. Aktivitas teater Amir tidak berhenti. Pada 14 Oktober 1992, Ia dan teman-temannya—dari Teater Bingung dan Teater Graha 176—membentuk sebuah Teater bersama, yang hingga kini kita kenal sebagai Teater Gaung. Nama ini merupakan padanan dari dua nama teater tersebut. Para pegiat teater yang kerap berlatih di Gedung Taman Budaya, diajaknya pula berkumpul dan berlatih di Monpera.

Tahun 2009, Amir memperoleh penghargaan anugerah seni dengan tajuk Anugerah Batanghari Sembilan kategori teater oleh Dewan Kesenian Sumatera Selatan. Bagi Amir, berkarya merupakan bagian yang tak terlepaskan dari berkesenian itu sendiri. “Lakukan apa yang ingin kita lakukan, selama itu tidak mengganggu kepentingan orang lain.” Dan teater--pada khususnya—merupakan proses untuk belajar peka pada dunia sekitar. Amir mengaku, bahwa melalui dunia teater Ia mendapat banyak pengalaman berharga. Baik itu tata lampu, tata rias, tata panggung, musik, kostum. Hanya saja, menurutnya permasalahan yang kerap timbul di para pegiat teater disebabkan ketidakdisiplinan termasuk pada jadwal latihan, terbatasnya keingintahuan, dan intensitas latihan. “Latihan teater itu seperti pisau, tak diasah maka ia akan tumpul.” Menurutnya teater juga menjadi ruang untuk menyampaikan pesan-pesan ke luar dari ruang itu sendiri. “Lewat teater semua hal bisa disampaikan,” tutur pria sederhana yang membuka usaha warung manisan di rumahnya di kawasan Kenten Laut Palembang.


Efvhan Fajrullah: Sang Elang Yang Terluka


Tidak pernah Ia niatkan sejak awal untuk menjadikan dunia seni bagian dari hidupnya. Namun tentu tak pernah disangkanya pula, bahwa ketertarikannya pada bidang olahraga atletik dan sepak bola ternyata membawanya ke dalam petualangan seni pertunjukan lebih dari yang pernah Ia sangka-sangka sebelumnya.. Bernama lengkap Efvhan Fajrullah, pria berambut sebahu ini kali pertama mengenal alat musik harmonika saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama tahun 1984. Sang ayah yang gemar bermain musik di rumah bersama teman-temannya, mengusik keingintahuan Efvhan untuk mencoba memainkan harmonika dan gitar. Intuisi seninya bertambah tak berapa lama saat ia—dan teman-teman satu kelas, tertarik dengan pola guru yang mengajarkan Bahasa Indonesia. Minatnya pada sastra mulai tumbuh. Ia mulai menulis puisi-pusi remaja dan membaca karya penyair-penyair besar Indonesia. Kesukaannya pada sastra seiring dengan kegemarannya bermain sepak bola. Ia sempat berlatih bersama tim Suratin, dan Stadion Bumi Sriwijaya menjadi tempat yang kerap Ia kunjungi. Tempatnya berlatih tak jauh dari Taman Budaya—yang kelak menjadi kawasan mal di kota Palembang, berlatih pula sekelompok pemuda yang tergabung dalam Teater Kembara. Aktivitas latihan kelompok teater ini berhasil mencuri perhatian dan ketertarikan Efvhan.

Pasca lulus sekolah menengah atas pada tahun 1989, bersama teman-teman Efvhan membentuk teater Graha 176 dan lalu berlatih bersama di kawasan pabrik Pupuk Sriwijaya. Ia mengambil peran mengaransemen musik-musik pementasan teater dan menulis naskah. Usia muda Efvhan yang menggelora menjadikannya semakin aktif. Tahun 1990, ia berkesempatan melakukan pentas seni perannya yang pertama pada naskah berjudul “Perjalanan”  karya Febri Al Lintani. Tak lama, naskahnya “Yang Terlupakan” dipentaskan di studio TVRI Palembang. Masih di tahun yang sama, dengan biaya sendiri, Efvhan mengikuti pelatihan seni pertunjukan di Yogyakarta. Empat bulan lamanya ia mengasah pengalaman di Yogyakarta. Sekembali dari kota gudeg, Efvhan berhasil melewati ujian untuk masuk ke perguruan tinggi negeri Universitas Sriwijaya. Bersama teman-teman di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan jurusan Bahasa Indonesia, Efvhan membentuk Teater GABI, sebuah sikronim dari Gabungan Anak Bahasa Indonesia. Kelompok ini sendiri mulanya merupakan sebuah program studi mata kuliah, namun kelak pada tahun 2003 berganti menjadi unit kegiatan mahasiswa dan berubah nama menjadi UKM GABI’91.

Aktivitasnya di kelompok teater kampus tidak menghalanginya untuk berkiprah di luar kampus. Tahun 1992, Ia menjadi salah seorang penggagas terbentuknya Teater Gaung, yang merupakan afiliasi dari Teater Graha 176 dan Teater Bingung, yang eksis hingga hari ini.

“Inspirasi bisa didapat dari mana saja,” tutur pendaki gunung yang juga salah seorang pelopor komunitas pecinta alam K-9 Team ini, saat ditanya perihal ide-ide bagi penulisan naskahnya. “Menjadi pelaku seni dituntut untuk cerdas dalam menganalisa kondisi sosial sekitar, mempelajari kehidupan, fenomena alam, karena inilah esensi sumber inspirasi, mengutip perkataan Putu Wijaya ‘Jangan menunggu ide, tapi ciptakan.’” Dan ini terbukti, tatkala naskah dramanya, “Atas Nama Bawah” diapresiasi pegiat teater dari luar kota Palembang. Naskah yang bercerita tentang kegilaan yang tersimpan dalam diri setiap manusia tanpa pengakuan dari manusia-manusia tersebut, dipentaskan di stasiun Televisi Yogyakarta pada tahun 1995. Tidak hanya itu, Efvhan setidaknya telah melahirkan dua antologi pusi; “Sketsa Musi” pada tahun 1996, yang merupakan kolaborasi dengan tiga penyair lokal lain, Jupril, Purhendi, dan Warman, serta antologi yang kedua merupakan proyek solonya, “Maka Dengan Ini…”

Tahun 2005, Efvhan berkesempatan mengikuti ajang bergengsi dunia sastra, Mastera, sinonim dari Majelis Sastra Asia Tenggara. Dan atas dedikasinya di dunia seni dan teater pada khususnya, pada 14 Desember 2010 lalu, Dewan Kesenian Sumatera Selatan memberikan anugerah seni dengan tajuk Anugerah Batanghari Sembilan kategori teater pada Efvhan yang hingga kini menjabat sekretaris di Dewan Kesenian Palembang.

 

Merekam Jejak Taufik Wijaya

Terlahir di kota Palembang empat puluh tahun silam, Taufik Wijaya mulai berkenalan dengan dunia seni sejak beranjak remaja. Teater Gembel menjadi salah satu media perkenalannya lebih intim dengan kesenian. Di usia itu, Taufik berkenalan dengan ide-ide dari para pemikir eksistensialis semisal Ivan Illich, Friedrich Nietzsche, Paulo Freire, Albert Camus, Søren Kierkegaard, Jean Paul Sartre, dan sederet filsuf lainnya. Mempelajari ide-ide materialis tentu juga mempertemukan dengan proses dialektika, yang menggiring Taufik pada keresahan. Ia mempertanyakan ide-ide tersebut, dan alhasil, pemikiran-pemikiran para filsuf itu lambat laun mulai Ia tinggalkan.

Taufik semakin dekat dengan dunia literasi. Kecintaannya pada sastra melahirkan banyak karya termasuk novel, esei, naskah teater, sajak dan liputan panjang, baik itu tunggal atau karya bersama penyair-penyair lain. Tahun 1995, ia melahirkan kumpulan sajak Krisis di Kamar Mandi dan sebuah karya bersama penyair-penyair lain Mimbar Penyair Abad 21. Satu tahun setelahnya lahir pula kumpulan sajak Dari Pesan Nyonya. Lalu tahun 2005 Ia meluncurkan Novel Juaro. Tahun 2006, Taufik melahirkan karya tunggal kumpulan puisi 1001 Tukang Becak Mengejarku, karya kolaborasi Cakrawala Sastra Indonesia, dan Kumpulan Puisi Penyair Internasional. Keproduktifan Taufik Wijaya kian mengencang, ini ditandai dengan lahirnya novel Buntung pada 2007, serta kumpulan puisi penyair Portugal, Indonesia, dan Malaysia, dalam Antologi de Poeticas. Tahun 2009 Ia mengeluarkan karya  berupa kumpulan sajak digital Aku Dimarahi Istri, dan kumpulan puisi penyair Nusantara Akulah Musi pada 2011.

Baginya, perkembangan dunia literasi di kota Palembang bisa dilihat dari fenomena “langka”nya karya-karya sastra lokal yang beredar dalam masyarakat. “Sebelum bertanya masalah seberapa besar minat baca pada masyarakat, pertanyakan dulu seberapa banyak karya yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat itu sendiri. Sebelum bicara mengenai output, bicarakan dulu inputnya,” seru ayah dua orang anak ini. “Dunia baca, kini mesti berhadapan dengan budaya tontonan, walaupun sebenarnya pola ini mengerdilkan mereka.” Ia menekankan, bahwa mencipta karya berarti harus siap menanggung resiko karya tersebut tidak diapresiasi.

Plagiarisme menjadi perdebatan banyak kalangan. Beberapa diantaranya menyebut ini sebuah kejahatan moral, walaupun kebenaran versi mayoritas itu sendiri masih berada di wilayah kelabu. Pertanyaan yang mungkin dilupakan oleh para pengagung orisinalitas adalah, siapa yang mencipta aksara, siapa penemu kata, dan apakah para perangkai bahasa yang kini kita gunakan sehari-hari menuntut royalti saat kita menggunakan bahasa yang mereka ciptakan?  Di saat plagiasi dalam seni dianggap sebagai petaka dan ironi intelektual bagi banyak orang, Taufik Wijaya yang kini bekerja di detik.com. dan mengelola majalah kebudayaan Musi Terus Mengalir, memiliki pendapatnya sendiri. Ia justru menyatakan ketidaksepakatan pandangannya pada orisinalitas. “Segala sesuatu telah ada bahkan jauh sebelum manusia mengenal sesuatu itu sendiri,” katanya berapi-api. “Seni tetap ada meski kita tidak berkesenian.”

Tahun 2010, Taufik Wijaya menjadi salah seorang seniman yang mendapat kehormatan dari Dewan Kesenian Sumatera Selatan dengan mendapat anugerah seni bertajuk Anugerah Batanghari Sembilan kategori sastra. Ini menandai, bahwa perjuangannya dalam melestarikan seni dan budaya Sumatera Selatan tidaklah main-main.

Vebri Al Lintani: Kisah Tentang Dunia Peran dan di Balik Sejarah Wayang Palembang


Vebri Al Lintani mengenal dunia teater dari Teater Kembara, dan mempelajarinya kemudian di Teater Gaung, walaupun ini bukan pengalaman pertamanya dalam seni peran. Tahun 1984 merupakan waktu dimana Ia pentas teater untuk pertama kalinya. Sejak kecil Ia telah mengenal seni. Dan beranjak remaja, Ia menyukai aktivitas menulis puisi dan membaca karya-karya eseis dan budayawan Indonesia. Tiga tahun kemudian, Vebri mulai tertarik dengan musik, dan belajar secara otodidak. Tahun 1991, Vebri mempelajari teknik penulisan naskah dan penyutradaraan di kampus Tridinanti Plaju. Sejak ini, Vebri telah menyutradarai banyak pertunjukan teater di Palembang. Naskahnya yang Ia anggap paling berkesan berjudul “Gadis Perawan di Sarang Jabalan,” yang disutradarai oleh Amir Hamzah, dibawah penilaian personil Teater Koma.

Menurut Vebri, peran sutradara meliputi manajerial dalam artistik dan mengelola seniman dengan mempertimbangkan segi potensi ataupun psikologi.Selain bakat, seorang sutradara harus dapat mengelola grafik pengadeganan dan memiliki pemahaman pada pengetahuan umum. Vebri melihat kualitas pementasan teater umum di Palembang cenderung menurun bila dibandingkan dengan era 70 hingga 80-an, namun secara kuantitas terjadi banyak peningkatan terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Penurunan antusiasme pertunjukan teater dalam masyarakat juga terjadi. Banyak hal yang mendorong terjadinya ini. Kemajuan teknologi visual di dunia entertainment menjadi salah satu penyebabnya. Masyarakat cenderung lebih memilih televisi dan internet bila dibandingkan dengan menonton pentas teater. Kondisi ini diperburuk dengan budaya konsumer yang menghilangkan minat remaja dalam mengapresiasi karya seni dan menyurutkan daya kreatifitas. Faktor lain yang membuat produktifitas karya menurun yaitu berkurangnya prasarana latihan. Bila dulu segala aktivitas berlatih dilakukan di Taman Budaya yang berlokasi strategis dan berjarak ideal, kini dipindahkan ke Jaka Baring yang relatif lebih jauh. “Tentu saja ini cukup menguras energi yang berimbas pada penurunan konsentrasi untuk berlatih,” ujar Vebri

Pada acara Refleksi Seni dan Penganugerahan Seni Batanghari Sembilan 2011, Vebri dipercaya sebagai sosok yang menyutradarai acara ini dengan tajuk “Ukir Gelung Negak Belabar Kawat,” yang berasal dari bahasa Palembang halus, dan berkisah tentang sayembara yang diadakan oleh raja bernama Ukir Gelung untuk mencari pedamping putrinya melalui adu kesaktian. Menurutnya event ini merupakan wujud sebuah refleksi yang dikemas dalam bentuk kesenian, dan diharap menjadi bingkai dari acara-acara terdahulu. Acara ini akan menampilkan pertunjukkan wayang Palembang yang dirakit sedemikian rupa dengan perpaduan musik pop, tari, irama melayu, dan Batanghari Sembilan.

Belum dapat diketahui secara pasti, kapan seni perwayangan masuk ke Palembang. Belum ditemukan catatan-catatan sejarah yang bisa memperkuat bukti-bukti. Sejarah hanya mencatat bahwa sejak masa perang dunia pertama hingga masa penjajahan Jepang, terdapat beberapa dalang wayang Palembang yang kini telah menjadi mendiang. Sebutlah dalang Abbas dari kampung 30 Ilir, Hanan dari 17 Ilir, Abdul Rohim dari 1 Ulu, Agus dari 17 Ilir, Hanan dari 14 Ilir Terusan, Muhammad Rasyid dan putranya Muhammad Rusdi Rasyid dari 36 Ilir.

Mengenai sejarah wayang Palembang, ketua program di Dewan Kesenian Palembang ini punya pendapat tersendiri. Menurutnya, budaya Jawa mulai masuk di saat kerajaan Sriwijaya mulai mengalami keruntuhan. Saat itu kerajaan Majapahit mulai menempatkan beberapa wakilnya ke Sumatera, walaupun sesungguhnya itu di luar batas kuasa Raja Majapahit. Terjadi kekosongan kekuasaan untuk sementara waktu, sampai akhirnya Prabu Brawijaya mengangkat Jaka Dilah menjadi raja di Palembang dengan gelar Arya Damar, yang juga dikenal sebagai Arya Dilah. Istri Arya Damar--seorang putri cina yang sebelumnya merupakan istri dari Brawijaya yang tengah mengandung-- melahirkan seorang putra bernama Raden Fatah. Setelah dewasa, Raden Fatah berangkat ke tanah Jawa dan berguru dengan Sunan Ampel. Sejak itu Raden Fatah menjadi pendakwah, termasuk metode dakwah melalui pendekatan pola kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat dan diantaranya adalah seni perwayangan.

Raden Fatah dipercaya sebagai orang yang membawa budaya wayang masuk ke Palembang sebagai media berdakwah yang lalu digunakan juga sebagai medium untuk menghibur keluarga keraton. Namun adanya pertunjukan wayang di dalam keraton sendiri masih diragukan oleh Vebri, mengingat berlaku sistem keislaman yang ketat di dalam keraton, yang mengharamkan entertainment kecuali itu berhubungan dengan dakwah dan bernuansa islami, semisal gambus dan rebana. Meski begitu tidak tertutup kemungkinan terjadinya akulturasi yang bisa dilihat dari beberapa bukti yang tersisa, baik itu dalam bahasa yang digunakan sehari-hari ataupun pada sistem penggelaran.pada strata masyarakat. Dalam perjalanannya yang panjang semenjak memasuki wilayah Sumatera, wayang Palembang bersentuhan dengan budaya setempat, mengadopsi unsur-unsur budaya lokal, terutama adalah penggunaan bahasa Palembang dalam narasi maupun dialog. Penyerapan kultur dari pulau Jawa ini yang dipadan dengan budaya melayu, membuat kemungkinan bahwa wayang Palembang berasal dari pulau Jawa tak bisa ditampik.

Mengurai Perjalanan Panjang Filuz Mursalin


Jiwa seni Filuz Mursalin semasa kecil mulai tampak saat Ia mengurai kreativitasnya dengan membuat alat-alat musik sendiri untuk bernyanyi dan bersenang-senang. Dengan papan seadanya, Ia merakit gitar. Dan dengan ember-ember Ia bereksperimen membuat tetabuhan drum. Ketika kelas lima sekolah dasar, Filuz mencoba bermain alat muik “sungguhan.” Gitar menarik minatnya. Seorang teman sekolah berbaik hati mengajarinya bermain gitar. Hari-harinya dihabiskan untuk terus berlatih sembari mendengarkan lagu-lagu favoritnya termasuk “Golden Wing” yang dinyanyikan oleh Karel Simon, dan lagu-lagu milik Koes Plus. Di saat yang hampir sama, Filuz kecil menciptakan sendiri lagunya yang pertama berjudul “Oh Mama, Oh papa.”

Tahun 1981, Filuz mencoba mencari penghasilan dengan cara menghibur para pengunjung beberapa rumah makan. Katakanlah, Ia salah satu  pelopor dunia perngamenan di Kota Palembang. Berbekal gitar dan harmonika, Filuz menyusuri jalan-jalan di kota Palembang, terutama di kawasan Jalan Veteran.. Pergelutan waktu mempertemukannya dengan hitam putih dunia jalanan. Sempat ia mencoba ganja yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi mentalnya dua puluh tahun lamanya. Ia menjadi paranoid. Sebuah perkenalan yang mesti Ia bayar mahal. Banyak kesempatan emas yang gagal diraih. Tahun 1989 kesempatan rekaman di Musica Studio Jakarta atas bantuan Iwan Fals, harus dilepas karena bayang-bayang kematian yang memburunya. Bahkan tawaran dari Ken Zuraida, istri mendiang WS Rendra untuk memimpin kelompok musik binaan beliau, “Kelompok Musik 89” juga tak kesampaian.

Namun di balik sisi kelam itu,  Filuz juga  berjumpa dengan teman-teman yang berjiwa seni sama dengannya, hingga mulai tertarik dan bergabung dengan teater Kembara. Di Kembara, Filuz tetap pada talentanya sebagai pemusik. Ia mengiringi lajur teater dengan petikan-petikan gitarnya. Prestasi gemilang diraihnya saat di tahun 1982, Ia dan teman-teman memenangi musik terbaik festival teater “Sebambangan”, sebagai juara pertama. Rekam jejak Filuz semakin matang, Ia berkesempatan pentas bersama WS. Rendra di Bengkulu. Lalu tahun 1995, Ia menyumbang sebuah lagu “Cerita Cinta” di album band rock kota Palembang, Steel Warrior, dan pada tahun 1996 ia berkesempatan berkolaborasi dengan penyanyi religius, Opick di Bella Studio Jakarta.

19 Mei 2008, Filuz mendirikan sebuah band bernama Ponjen, bersama teman-teman di studio Bayangan Semesta Alam, di Jalan Talang Ratu, Palembang. Dan meski dikenal oleh banyak orang berkat karyanya bersama Conie Sema pada lagu berjudul “Yakwa” yang sempat populer di kalangan warga kota Palembang dan sekitarnya pada tahun 2003 dan 2004, Filuz tetap ingin hidup mandiri dan sederhana. “Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya beternak ayam kampung di rumah,” ujar Filuz. “Saya tidak ingin mencari uang dalam berkesenian.”

Kini, pria lajang ini telah membangun Komunitas Gudang Seni di rumahnya di bilangan Sekojo, Palembang, yang berkonsentrasi pada musik tradisional Batanghari Sembilan. Tanggal  14 Desember 2010 lalu, Dewan Kesenian Sumatera Selatan memberikan anugerah seni dengan tajuk Anugerah Batanghari Sembilan kategori musik. Dan terakhir, Ia diminta oleh Iwan Fals untuk memberi sebuah karyanya berjudul “Semua Ada Kesudahan.”

Sungguh, sebuah proses menuju pencapaian yang luar biasa.